Sunday, May 28, 2017

The Hard Part

Chapter 1 (Homecoming)

“Ping… Ping… Ping… Ping…”
Ponselnya tidak mau berhenti berbunyi, dari Anna. Mungkin dia sedang karatan sekarang menunggu Nova. Sesuai dengan status di instagramnya yang mengatakan dia telah sampai di depan kantor Nova tiga puluh menit lalu, bersama sebuah fotonya yang sedang duduk di atas motor dengan helm berwarna coklat berstiker ‘Marc Marquez 93’. Nova memang meminta Anna untuk menjemputnya seusai jam kantor.

“Hallo selamat sore, maaf ada yang bisa saya bantu.”

“Sialan. Aku udah nungguin dari tadi nih,” Anna beteriak dari seberang, setelah menunggu cukup lama apalagi bbmnya hanya berstatus ‘read’ tanpa ada satupun yang dibalas oleh Nova, dia memutuskan untuk meneleponnya dan jawaban seperti itu yang justru dia dapat.

Nova tertawa dari ujung telepon, “Iya, ini aku udah mau keluar kok,” Nova menutup ponselnya dan mendapati wajah manyun sahabatnya.

“Yuk, telat nih.”

“Hayuk.

Nova meraih helm yang mengantung di spion motor Anna dan menggunakannya lalu duduk di belakang Anna. Tanpa menunggu lama Anna langsung menarik gas dan motornya melaju ke arah yang mereka tuju.

“Yang lain gimana?” ujar Nova sedikit berteriak ke arah telinga Anna.

“Udah beres semua tinggal nungguin kita aja,” balas Anna.

“Aku malu ke reuni pake baju kantor gini, yang lain pasti keren-keren.”

“Iya juga sih, acara reuni kita kan selalu cetar membahana badai.”

Hari ini mereka akan menghadiri reuni yang diadakan setiap tahun, biasanya acara akan digelar meriah bahkan tak jarang menggunakan kostum aneh untuk menunjang suasana pesta. Tahun lalu saja Clara datang dengan menggunakan kostum ibu peri, tapi tahun ini tidak ada persiapan khusus, sebab masing-masing telah memiliki rutinitas dan kesibukan yang membuat mereka tidak bisa melakukan persiapan seperti di tahun-tahun sebelumnya.

Mereka tiba di sebuah toko roti yang dipintunya menggantung tulisan ‘TUTUP’. Tapi dengan cueknya Anna membuka pintu toko tersebut dan masuk ke dalamnya bersama Nova. Balon dan pita berwarna-warni menghiasi ruangan tersebut, ini pertema kalinya reuni diadakan di toko roti milik Clara yang baru saja berdiri dua bulan lalu.

“Kaum duafanya udah datang nih,” celetuk Clara dari belakang sambil membawa kue besar dengan hiasan lucu di atasnya. Clara seringkali memanggil Anna sebagai kaum duafa yang wajib diberi sedekah karena kebiasaan Anna yang suka makan di rumah sahabat-sahabatnya. Begitu berkunjung ke rumah sahabatnya, ruangan yang dituju adalah dapur.

“Wah udah pada datang nih, kirain nggak jadi. Enak ya, datang langsung makan,” timpal Jihan.

Acara reuni yang hanya dihadiri empat orang, karena memang acara reuni ini diperuntukkan untuk mereka berempat meskipun setiap akhir pekan mereka selalu bertemu, tapi acara reuni yang diadakan setiap minggu kedua di bulan juli ini menandakan hari di mana mereka berkumpul bersama, hari dimana persahabatan mereka dimulai dan dikukuhkan pada saat itu juga.


Saat itu mereka yang dipertemukan kala masa orientasi sekolah, sedang sama-sama dihukum karena terlambat dan tidak membawa atribut kelengkapan orientasi, mereka berempat dijemur di lapangan tepat di bawah bendera merah putih di depan siswa lainnya yang sedang mengikuti upacara sebagai peringatan agar siswa lain tidak mencontoh keteledoran mereka berempat.

"Aduh panas banget nih, tega banget sih hukum kita di tengah lapangan gini," Clara berbisik masih dengan posisi hormat sambil berusaha menghindarkan wajahnya dari terik matahari.

"Gimana kalau Ketua OSIS yang songong itu kita kerjain?" bisik Jihan membuat mereka berempat merapatkan kepala.

Beberapa menit kemudian tubuh Anna tiba-tiba ambruk ke tanah.

"Ada yang pingsan," seketika Nova berteriak.

Suasana hikmat mengheningkan cipta terhenti, semua orang terfokus oleh tiang bendera dan mereka berempat. Edo, si Ketua OSIS itu pun berlari dengan sok pahlawan bermaksud menolong Anna. Dia berusaha mengangkat tubuh Anna yang kala itu masih memiliki bobot tubuh 60kg. Edo yang memiliki tubuh lebih kecil sempat dibuat susah payah menganggat tubuh Anna. Setelah berusaha cukup lama, akirnya Edo berhasil mengangkat tubuh Anna setinggi lututnya.

Tapi kemudian Anna membuka matanya dan berkedip ke arah Jihan. Secara mengejutkan Anna menggerakkan tubuhnya ke samping kiri, dengan gerakan tiba-tiba dan Edo yang sedari tadi berusaha menahan berat tubuh Anna, sontak terguling dan terjatuh. Tubuh Anna menimpanya hingga ahirnya dia pun pingsan.

Setelah kejadian itu Edo menghilang dari sekolah dan baru muncul di hari ketiga. Setiap melihat Anna dan kawan-kawan Edo akan berusaha tidak melihat dan menghindar. Hal inilah yang lantas membuat Anna menjalani program diet ketat untuk mengurangi berat badannya. Meski dengan waktu yang cukup lama karena tidak tahan menolak eskrim traktiran Nova.

Itu sebabnya mereka memutuskan menggunakan hari di mana mereka bertemu sebagai hari persahabatan mereka, hari reuni.


To Be Continued


Okeh saya datang dengan cerbung baru bergenre komedi ringan yang membahas tentang kejadian dan fenomena sehari-hari yang sering terjadi di sekitar kita. Sinopsis: Anna, Clara, Jihan dan Nova adalah empat sahabat yang dipertemukan saat mereka menduduki bangku sekolah menengah atas. Meskipun waktu dan jarak sempat memisahkan mereka namun mereka tetap mampu mempertahankan persahabatan mereka hingga mereka sama-sama dewasa dan menjelma dari gadis culun menjadi wanita-wanita mapan dan mempesona. Dari luar mereka terlihat sempurna, canti dan memiliki karier bagus. Tapi siapa yang akan meyangka sifat asli mereka yang hanya akan keluar ketika mereka berkumpul bersama. Menimbulkan kelucuan dan situasi-situasi tidak terduga. Mereka tidak hanya sekadar sahabat tapi sudah seperti keluarga.




Cast:
Anna: Seorang Guru SD yang sering digoda oleh Wali muridnya karena kebiasaan dia yang sering mengunggah foto dirinya dalam setiap kesempatan di media social, dia satu-satunya yang paling update soal berita terkini atau hal apapun yang tengah terjadi di sekelilingnya ataupun di dunia. Dia sedikit cengeng, naïf dan masih susah move on karena belum bisa melupakan kekasih terakhirnya. Dan kini sedang happy bersama ketiga sahabatnya.

Clara: Adalah pemilik sebuah toko roti yang selalu mendambakan kesempurnaan dalam dirinya, meskipun dia salah satu yang paling cantik di antara sahabatnya tapi dia tidak pernah puas dengan wajahnya dan selalu ingin melakukan operasi plastik meskipun hingga kini dia tidak pernah mengubah wajah aslinya. Kesalahan yang sering dia lakukan adalah kesalahan dalam memilih pasangan. Beberapa kali dia sempat tertipu oleh pria-pria yang hanya menginginkan materinya, namun hal ini tidak membuatnya menyerah dalam mencari cinta.

Jihan: Seorang fotografer sekaligus selebgram yang sudah memiliki jutaan followers berkat kelihaiannya dalam mengabadikan gambar, dia memiliki sifat tomboy yang membuatnya jauh terlihat lebih tegas dalam menghadapi setiap permasalahan, tak jarang dia menjadi pemecah setiap masalah yang terjadi di antara sahabatnya. Trauma yang dihadapinya membuatnya menutup diri pada laki-laki manapun yang nyaris susah untuk percaya dan sebuah hubungan dan cinta. Baginya uang adalah cinta. Sementara cinta dapat diciptakan jika memenuhi beberapa syaratnya.

Nova: Seorang karyawati perusahaan swasta yang menjadi satu-satunya gadis yang memiliki pacar atau sedang menjalani hubungan serius dengan salah seorang laki-laki yang berprofesi sebagai vocalis band indie. Hal ini yang membuat pacarnya belum mau melangkah ke hubungan yang lebih serius karena sibuk dengan bandnya, dan baginya gitar jauh lebih cantik dari Nova. 



Friday, May 26, 2017

Banyak Cerita di Ramadan Pertama

Assalamualaikum....

Saya hadir kembali setelah kemarin sempat bercerita tentang "The Legend of Somplak" Kok sekarang jarang bikin cerpen yah? Haduh iya tuh. Gimana nih, buat mengembalikan semangat menulis saya. Sedikit cemas sih, gara-gara vacum kemarin dan fokus sama kesibukan di luar jadi jarang nulis. Padahal kesibukan sih, bukan alasan. Harusnya saya tetap bisa menulis cuma gara-gara malas terus mengatasnamakan kesibukan jadi ya begitu deh. Manja.

"Hanya ada dua rahasia penulis hebat di dunia ini yaitu, banyak membaca buku-buku yang berkualitas dan banyak praktek menulis setiap hari."

Kalimat itu bagaikan tamparan bagi saya, padahal saya percaya selama masih memiliki dua tangan, jari-jari ini tetap bisa menari, di atas keyboard komputer, keypad ponsel ataupun pakai cara lama, menari-nari bersama pena. Padahal saya salah satu pengagum J.K Rowling. Harry Potter tidak tercipta di atas keyboard komputer termahal di dunia, tidak diketik di dalam ruangan dengan dekorasi terindah, atau di depan pemandangan alam yang menakjubkan.

Tapi saya, begitu banyak alasan hingga melupakan janji untuk tetap menulis setiap hari. Dasar manja. Yeah, sebut saja saya penulis manja. Dasar...

Tapi gimana lagi dong, saya harus membagi waktu antara mengajar, merintis bisnis hijab yang baru saya mulai dan jalan-jalan bersama Somplak. Plakk.


Kebetulan kegiatan di sekolah saya sudah berhenti di awal bulan Ramadan ini dan baru mulai masuk lagi nanti seusai lebaran. Meskipun tugas dari sekolah lumayan ribet nih, untuk tahun ajaran baru mendatang. Yeah tapi masih bisa leha-leha, santai, ngedibug, guling-guling di rumah lah selama sebulan ini. Selain itu saya mau mulai menulis lagi. Melanjutkan draft draft yang terbengkalai.


Dan yeay...
Kita bertemu lagi di bulan Ramadan. Sempat ada ketakutan juga sih, kemarin. Bisa tidak ya saya bertemu dengan Ramadan lagi. Karena satu bulan rasanya begitu cepat. Masih ingin tarawih, tadarus, sahur bersama. Tapi rasanya sekarang pun percuma. Cerita di bulan Ramadan akhir-akhir ini tidak sesemarak ketika aku masih kecil. Sepulang dari shalat tarawih barusan sambil ngobrol sama Kiki. Bahwa dulu saat bulan Ramadan biasanya ada acara patrol keliling kampung, kalau sekarang lebih suka bangun pakai alarm sendiri sendiri, kalau dulu ada perang meriam bambu kalau sekarang pakai petasan yang bahaya (eh btw meriam bambu sama petasan lebih bahaya mana?), kalau dulu tadarusan di Mushola atau Masjid bisa sampai tengah malam tidak jarang sampai menjelang sahur, kalau sekarang pukul 10 malam saja sudah pada bubar, kalau dulu Masjid Masjid atau Mushola penuh di awal malam tarawih, kalau sekarang. Tadi saja saat berangkat tarawih dua gadis yang sedang duduk-duduk di depan rumahnya melihat dengan wajah curiga, begitu pula sama nenek-nenek yang nyeletuk, "Kari isuk lak budal." Intinya saya dianggap terlalu awal berangkat ke Mushala yang jaraknya lumayan dari rumah.

Baru pindah rumah sih, kalau kemarin jarak dari rumah ke Mushola yang hanya berjarak beberapa rumah jadi bisa nyantai dikit berangkatnya. Enaknya mah, gitu kalau rumah dekat dengan Mushola. Eh tapi dulu saya pernah tinggal di rumah yang jaraknya hanya sejengkal dari Masjid. Ibarat dari rumah mau ke Masjid tinggal lompat hap lalu sampai.

Sudahkah kalian saling mengirimkan pesan saling mengucapkan maaf?

Kalau dulu, di awal bulan Ramadan begini hp pasti ramai dengan sms sms berisi permintaan maaf. Padahal zaman dulu biaya mengirim sms relatif masih mahal dibanding sekarang yang jauh lebih mudah dengan beragamnya media sosial dan platform chatting.

(Isinya sepi)

(cuma ada satu pesan dari salah satu murid)
(dan satu pesan lagi dari rekan mengajar)

Pokoknya cerita Ramadan belakangan ini rasanya kurang greget gimana gitu. Apa ini cuma perasaanku saja atau teman-teman pembaca juga merasakannya.

Yuk, sharing pengalaman kalian juga.




Saturday, May 6, 2017

The Legend of Somplak



Kali ini saya ingin bercerita mengenai persahabatan, tentang tiga sahabat saya, sambil sedikit curhat ceritanya, karena sayapun merasa tertodong dan terpalak untuk membuat cerita empat somplak.

Siapa empat somplak?

Mereka adalah orang-terbaik yang diciptakan oleh Tuhan. Ketika aku mengatakan terbaik, percayalah... Mereka memanglah manusia-manusia yang diciptakan di atas kesempurnaan.


Sahabatku yang pertama


Perkenalkan, Riska Fibriana. Misterious Gilr yang satu ini merupakan gadis muslimah yang tidak hanya cantik melainkan memiliki kepribadian sholeha, dia yang merupakan karyawan sebuah perusahaan swasta ini juga dikenal sebagai gadis yang tidak hanya cerdas, namun juga kreatif. Dari tangan-tangan ajaibnya dia bisa menciptakan berbagai macam benda ataupun kerajinan tangan yang luar biasa indah.
Lihat saja hasil karyanya: 


Selain itu dia memiliki kebijaksanaan luar biasa tentang bagaimana cara dia memandang makna kehidupan. Dia adalah teman terbaik saat bertukar pikiran.


Sahabatku yang kedua.

Fransisca Putri Ragil Yunfrita Sari, dia adalah ibu perinya kami, ibu peri bagi semua teman-temannya. Ibarat seorang princess yang tidak hanya memiliki kecantikan tapi juga kebaikan dan ketulusan hati. Dialah Putri. Sesuai dengan namanya dia memang seorang princess yang tidak hanya dikaruniai wajah cantik rupawan namun juga kebaikan dan ketulusan hati. Dia adalah orang pertama yang ada ketika temannya mengalami kesusahan, dia tidak akan ragu menitikan air mata ketika salah satu temannya mendapat musibah, dia tidak pernah ragu menyuarakan kebenaran dan melawan kemungkaran.

Sifatnya yang tidak pernah mengecewakan teman, membuatku menjadikan dia sebagai pundak pertama untuk berkeluh kesah.


Sahabat ketiga


Siti Wulandari, sahabatku yang satu ini merupakan traveler sejati sekaligus selebgram yang cukup terkenal. Memiliki jumlah follower yang tidak bisa dikatakan sedikit. Penampilannya selalu fashionable, dia juga ahli dalam bidang fotografi.
Cek saja sendiri akun instagramnya! Hits kan...
Di bandingkan instagramku yang bagaikan upil di tengah Sahara.


Bukankah aku memiliki sahabat-sahabat yang sempurna, mereka juga sangat luar biasa, mereka adalah yang terbaik. Tapi semua itu pudar ketika kami bersama, luntur saat kami berkumpul menjadi satu. Tiba-tiba saja mereka menjadi sosok yang berbeda, sosok yang menyebalkan yang selalu membullyku.
Di balik kerudung syar'inya Riska bisa bertransformasi menjadi gadis jenaka, somplak dan mirip Cak Lontong versi wanita. Dengan banyolan-banyolan cerdasnya yang membuat perut sakit menahan tawa. Sementara Putri, jangan bayangkan dia sebagai princess. Karena percayalah, ketika kami bersama dia akan mengeluarkan kalimat-kalimat sindiran yang akan membuatku malu mengakuinya sebagai teman. Ketika dia mulai buka suara, percayalah! Jangan percaya! (????)

Maksudnya jangan mempercayai apapun yang dikatakan oleh Putri atau kamu akan malu sendiri lalu berharap tidak pernah mengenalnya seumur hidup.

Setali tiga uang dengan Putri, di balik foto-foto cool yang bisa kalian liaht di instagramnya, jangan kaget, jangan heran, jangan terkejut ketika mengetahui sifat aslinya yang gokil dan suka menyindir. Jangan dekat-dekat dengannya jika hatimu tidak kebal menahan sakit akibat kata-katanya yang nyinyir.
Itulah sebabnya mereka semua adalah tiga somplak empat sempurna. Karena mereka tidak akan pernah lengkat jika tidak ada orang keempat. Dan meskipun mereka somplak, tapi bagiku mereka semua sempurna.


Demikianlah artikel gaje yang sebenarnya sudah mengendap cukup lama didraft dan baru tersentuh hari ini, ketika rasanya dunia sudah tidak menarik lagi. Aku hanya bisa berdiam dan menghibur diri.

Selamat malam....

Sunday, April 9, 2017

Fire

"Jalani hidupmu, lagipula ini hidupmu sendiri. Jangan coba terlalu keras. Tidak masalah menjadi pecundang."


Seorang lelaki dengan rambut merah bangun dari tidurnya. Dia memegang kepala yang berdenyut sakit. Ia berusaha mengumpulkan nyawa secepat mungkin. Lalu secara gusar mencari asal suara tadi.


Tidak ada seorang pun di sekelilingnya. Hanya ada dia. Dan beberapa benda semisal sepatu, jaket, baju kotor, berserakan di lantai.


Kepalanya kian berdenyut sakit. Lelaki itu mengerang. Menutupi kepala dengan bantal. Ini efek semalam. Minuman haram itu. Ah, menjadi candu tenyata setelah dua tiga kali mencoba. Kini, setiap malam kalau tidak meneguk cairan itu, terasa hampa hatinya.
Ia tak bisa hidup dengan cairan itu. Meski di setiap paginya, ia sukses tetsakiti cairan tersebut.


Setelah agak baikan, dia bangkit duduk. Berdiri. Berjalan menuju kamar mandi.
Keluar dari sana, wajah lelaki tersebut basah.


Dengan langkah diseret, ia menuju jendela. Sebelum benar-benar sampai, matanya diganggu sebuah benda yang terletak di nakas. Ia menghampiri benda itu.


Sepotong baju koko, peci, dan kain sarung. Serta terdapat sobekan kertas kecil di sana.


'Mama selalu berharap, kamu menjadi seorang Kyai, Nak.'


Matanya panas. Memerah. Dan setitik air menuruni rahang kerasnya.


"Aku terlalu hina ...."


Dia memandang pakaian itu lama.
Sepotong ingatan seseorang mengatakan kaliamat menohok melewati benaknya.


"Jalani hidupmu, lagipula ini hidupmu sendiri. Jangan coba terlalu keras. Tak masalah untuk menjadi pencundang," secara tiba-tiba menggaruk rambut frustrasi. Dan membuang pakaian tadi ke lantai.


Tangannya meraih laci meja. Mencari sesuatu.


Ketemu!


Sebuah korek! Korek api.


Ia memandang bergantian korek dan pakaian tersebut.


Sepotong senyum setan terbit.
Huwahahahahaha.


Bakkar!!!


"Tidak masalah menjadi pecundang. Bukan begitu?" Senyumnya kembali terbit.


Dipandangnya korek api ditanganya. Dipatikkan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat. Sialan! Kepalanya terlalu sakit sampai tanganya tak mampu mematikkan korek api.


Dia terduduk. Kepalanya terasa semakin sakit. Frustasi. Apa ini? Cairan di pipinya? Cih!


Dengan langkah tergesa lelaki itu menuju kamar mandi, membasahi wajahnya, mengganti pakaianya. Dan pergi.


Ia butuh pelampiasan. Suatu kebisingan. Membakar sesuatu (mungkin). Langkahnya tergesa sepanjang jalan. Pikiranya berkecamuk. Ia bisa gila lama lama.


Di jalan yang dia bisa hanya meludahkan kata-kata buruk. Meracau. Menggila.


"Mama selalu berharap, kamu menjadi seorang kyai, Nak."


Kata-kata buruk kembali terludah dari mulutnya.


Berkeliaran sepanjang jalan, hingga matahari terbenam. Menjalaninya seperti gelombang, hanya mengikuti dan tak punya pendirian.


"Hallo," seorang wanita dengan hijab berwarna biru tiba-tiba menyapanya.


"Assalamu'alaikum.." lanjut wanita tersebut, tersenyum.


Seketika dia menoleh ke arah asal suara dan terdiam untuk beberapa menit hingga akhirnya keluar sepatah kata dari mulutnya.


"Waalaikumsalam..."


Fiuh... mulut kotornya masih pantaskah mengucapkan salam.


"Abang mau kemana? Ke Masjid, yuk! Sudah hampir masuk shalat magribh nih," ujar wanita itu dengan senyuman menawan. Oh matahari sudah mulai terbenam rupanya. Dan wanita itu masih berdiri di hadapannya menunggu jawaban yang tak kunjung terlontar dari bibir pria itu. Dia sibuk memperhatikan senja.


"Kalau begitu saya duluan ya, Bang."


Wanita itupun berlalu dan dia hanya bisa memandanginya hingga bayangannya menjauh dan menghilang. Dia membalikkan badan, berjalan ke arah berlawanan dengan tujuan wanita itu. Dia berjalan cepat, setengah berlari. Hingga sampai di sebuah gedung tua yang dijaga oleh dua pria berwajah suram.


Dia masuk ke dalam gedung itu dan melewati kedua penjaga yang salah satunya menepuk bahu pria itu dan menghentikannya di ambang pintu.


"Bagi gue rokok dong, Yok!"


"Kagak ada Bang," ujarnya sambil melepaskan tangan penjaga itu kemudian masuk ke dalam.


Ternyata di dalam sudah mulai ramai. Riuh oleh suara debuman musik yang menghentak membikin kuping sakit. Tapi anehnya tempat ini banyak disukai terutama oleh orang-orang hilang arah seperti dirinya.


Dia melihat ke sebelah kiri, terdapat sebuah meja panjang yang dijaga oleh tiga pemuda yang siap menyediakan minuman yang akan membuatnya mabuk kepayang. Di sebelah kanan sudah dipenuhi orang-orang lupa diri. Mereka menari, laki perempuan meliuk-liukkan badan seperti kesurupan ular. Tak peduli tabrak sana tabrak sini yang penting happy. Mereka seperti sedang terbakar oleh sesuatu. Membara. Panas.
Datang ke sini semua orang dengan ketakutan.


Datang ke sini semua orang yang patah hati. Sepanjang malam dengan tangan kosong. Dengan langkah berbaris. Kita semua melompat. Kita semua menggila. Pria itu mulai bergabung dan dalam sekejap kehilangan dirinya dalam kebisingan. Membakar seolah dirinya api yang menyala dan tak mampu dipadamkan.


Angkat tanganmu dan buat kebisingan. Kita bakar di sini. Mari kita bakar di sini bow wow wow. Mari kita bakar.


DUAR....
Terdengar suara ledakan keras yang tidak diketahui asalnya. Asap putih tiba-tiba memenuhi seluruh ruangan yang menyelimuti mereka yang sedang lupa diri. Tak ada yang peduli. Semua masih menari dan menyanyi la la la. Terbakar semangat membuat mereka lupa.


Hingga ketika panas itu menjadi lebih realistis. Dan bakar menjadi kata yang nyata. Ketika mereka sadar api sudah dimana-mana. Tinggal sejengkal menjilati tubuh mereka. Barulah mereka sadar dan berlari keluar. Sementara pria itu masih berusaha menjernihkan pikirannya. Dia pikir api itu hanya halusinansi semata. Karena dia sedang merasakan semangat memuncak, membara dan api membakar dirinya hingga tiada tersisa apa.


"Fire" oleh Ainuen Nadifah, Endach Septiani,  Faranggi Eva Lutvika.



Ini adalah cerpen kolaborasi ketiga aku bersama Ainuen dan Endach. Kok sering banget sih, bikin cerpen kolaborasi. Yup... kami yang tergabung dalam organisasi Blogger Muda (yang muda yang berkarya) padahal anggotanya cuma tiga. Memiliki jadwal rutin setiap minggu untuk membuat cerpen kolaborasi yang temanya mengambil dari sebuah lagu. Setelah kemarin kami menggunakan lagu favoritku "Beauty and The Beast" yang merupakan soundtrak dari film dengan judul yang sama. Kali ini kami mencoba membuat cerpen dari lagu favorit Ainuen, yaitu "Fire" yang dinyanyikan oleh boyband asal Korea Bangtanboys atau BTS.

Sunday, April 2, 2017

Beauty And The Beast

Kisah yang sudah setua waktu, berputar kembali.


Tersenyum. Tertawa. Mengingat masa lalu membuatku ingin menceritakan pada kalian. Sebuah kisahku dan dia.


Jadi begini, kisah dimulai saat aku bertemu dengannya di depan toko permen. Dia memegang dua permen lolipop. Permen itu gonta-ganti menjamah lidahnya. Tampak cairan hijau mengalir keluar dari dua lubang hidungnya. Ingus. Dan aku bisa melihat, tidak sengaja ia menjilat ingusnya sendiri.


Pasti rasanya ... asin-manis.


Aku melihat dia sudah terlebih dahulu merasa ilfil. Lelaki itu mendapat nilai negatif dariku.


Jorok!


Dan ...


Ada tanda lahir besar di pipinya. Gigi ompong. Berkacamata. Rambut belah tengah.


Dia jelek.


Sangat jelek.


"Hai cantikk."


Dia menyapaku? Menyapaku?


"Hai ...," ketakutan.


"Ini untukmu," dia menyerahkan satu lolipopnya padaku.


Aku menerimanya dengan ragu. Hanya berusaha bersikap sopan  dengan menghargai pemberian orang.


"Mau nggak jadi pacarku?" tidak ku sangka-sangka di mengeluarkan sekuntum mawar merah dari balik tubuhnya.


Mata ini membulat. Dan bibir pun melongo membentuk huruf 'O'.


"Hey! Umur kita masih 7 tahun."


Setiap mengingat kisah tua itu, aku selalu ingin tertawa. Pertemuan pertama yang menggelikan. Seenaknya menyatakan perasaan pada orang. Padahal kita sama sekali belum mengenal.


Dan ... namaku bukanlah cantik.


Tapi dia mengatakan kalau aku cantik. Itu sebabnya dia menyatakan cinta padaku.


Kulihat dia tertawa. Hanya sedikit perubahan dari caranya tertawa. Yakni bertambahnya lesung kecil di dagu.


Kisah itu entah kenapa terputar kembali dalam benakku. Serampangan aku menceritakan pada dia "si penjilat ingus"


Dia tertawa lagi, kemudian memparodikan caranya menjilat ingus. Kali ini aku tak merasa jijik, sedikit ilfil memang. Namun lucu saja melihatnya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku 10 tahun lalu," ucapnya, berhenti dari candanya.


"Pertanyaan yang mana?" tentu saja aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Tapi aku merasa tak ingin membalasnya.
Terlalu picik memang, mengingat sejujurnya aku kurang menyukai penampilanya saat ini maupun 10 tahun yang lalu.


"Kalau kamu liat ini, pasti kamu ingat," ucapnya dengan merogoh tas selempangnya.


Permen lolipop.


Lalu cerita tua itu seolah kembali terulang ketika dia membuka bungkus lolipopnya dan mulai menjilati setiap inci lempengan kecil berwarna pelangi. Namun kali ini tanpa ingus seperti kisah tua itu.


Reaksikupun berbeda sudah tidak memandangnya dengan perasaan jijik aku justru tertawa melihat tingkahnya.


Kami sama sekali bukan teman, hanya kebetulan bertemu tanpa diduga-duga. Memulai kembali kisah lama. Meskipun harus ku katakan, dia tidak setampan pangeran dalam kisah dongeng yang sering ku baca. Datang tanpa kuda putih dan keretanya.


Tapi aku tidak bisa berpura-pura bahwa kehadirannya menghidupkanku kembali, memberi setitik cahaya seperti lilin-lilin kecil di tengah goa yang mulai menghampa.


Kehadirannya mengisi salah satu ruang kosong di hatiku, tapi yang aku tahu bukanlah dia si buruk rupa. Melainkan aku.


"Bella... Waktunya minum obat," Ibuku muncul dari belakang.


Sebelum menarik kursi roda yang kini berperan menggantikan kedua kakiku yang hilang, Ibu melihat ke arah pria itu. Melemparkan senyum lalu membawaku masuk ke dalam rumah.


Akankah dia mampu menerimaku?


Friday, March 31, 2017

Mencari Angin

Aku berdiri di bawah butiran-butiran bening yang menyerangku. Keroyokan. Sepertinya mereka tak mampu menghadapiku satu persatu. Pengecut. Pecundang kalian. Kalau berani lawan aku dengan tombak petir milik Zeus yang kau pinjam.

Aku masih berdiri menantang hujan.

Basah semua dari ujung kepala sampai ujung kaki. Basah yang mengingatkanku pada rindu. Karena seriap menatap hujan yang terlintas di benakku hanya senyum nakalmu.

Kenapa kamu pergi?

Aku berlari menyusuri hujan berharap menemukan angin yang telah pergi. Jangan pergi kemarau. Tetaplah kering seperti hatiku yang gersang semenjak angin itu berembus untuk yang terakhir kali dengan membisikkan kata selamat tinggal.

Di mana lagi aku bisa mendapatkan orang sepertimu, mencari senyum yang sama nakalnya dan merindu seperti punguk yang selalu menatap bulan dari kejauhan.

Dengan apalagi aku bisa menggantikanmu.

Kalimat itulah yang selalu terkenang semenjak anginku hilang. Seolah hariku hanya dipenuhi hujan dan air mata. Di dalam ada hati yang senantiasa merindunya. Menunggunya jika saja dia menyapa dan kembali dengan kata penyesalan karena telah pergi.

Hingga ketika aku sadar aku hanya berdiri di pinggir hujan. Berada di antara kenangan dan masa depan. Masih berusaha melepaskannya satu persatu, dengan iman aku percaya setiap butiran-butiran hujan mampu membawa kenangan tentang anginku pergi. Ku lepaskan satu persatu hingga genap dan semuanya lenyap di bawah gemericik hujan menuju sungai dan bermuara di pantai. Tempat paling akhir untuk sebuah kenangan dan luka masa lalu.


“Gi, masuk yuk. Designer baju pengantin kita sudah datang,” ujar seorang pria yang di jari manisnya melingkar sebuah cincin yang sama dengan cincin yang ku punya.



Banyuwangi, 30 Maret 2017

Saturday, March 25, 2017

Cause My World Is Full With You

Ini merupakan cerpen kolaborasi dari penulis hebat dan terkenal sejagad hmmm sejagad apa ya? Ya pokoknya terkenal lah. Tergabung dalam kelompok menulis yang bernama #BloggerMuda. Sebuah grup yang isinya cuma bertiga. Eksklusif hanya untuk tiga orang saja. Lagian siapa juga yang mau gabung ya?!!!

Terimalah persembahan dari kami bertiga. Aku yang paling unyu sendiri.



Karya: Anggi, Ainuen, Endach


Seorang lelaki memberikan sejumlah uang pada pedagang. Ia mengambil barang yang baru saja dibelinya. Kemudian menenteng barang tersebut dengan senyum bersinar bahagia.

Ponsel di saku celana bergetar. Lelaki itu mengambilnya, kemudian membaca pesan yang tertera di sana.

"Awas!! Jangan selingkuh!"

Itu adalah kekasihnya. Lelaki tersebut tersenyum makin bahagia.

Jauh di sana, kekasih lelaki itu sedang mencari ilmu. Tepatnya pada negeri orang. Jarak terbentang amat jauh. Sungguh menyiksa masing-masing hati.
Selain menyiksa, jarak itu sedang menguji kesetiaan mereka.

"Jangan lirik wanita lain!!"
Satu pesan baru masuk.

Lelaki itu melirik sekitar  kerumunan pasar. Banyak wanita di sana. Tapi ... anehnya, kenapa semua wanita berwajah sama dengan gadisnya?

Tak luput dari pandanganya lelaki-lelaki di pasar itu pun memiliki wajah yang begitu serupa denganya.

Lalu bagaimana ia dan kekasihnya bisa menjalin hubungan jika wanita dan lelakinya memiliki wajah yang serupa?

Ah.. jangan tanyakan itu padanya. Karena ia tak punya jawabanya. Tapi yang pasti ia begitu mencintai sifat posesif wanitanya.

Posesif. Benar. Ponsel yang masih di pegang lelaki itu bergetar lagi. Kekasihnya.

"Jangan selingkuh!"

Lelaki itu tertawa, memandang sekeliling lagi. Wanita-wanita itu memang memiliki wajah yang serupa dengan kekasihnya. Tapi tidak memberikan perasaan yang serupa seperti yang bisa kekasihnya lakukan.

Dipandangnya gelang couple berwarna hijau ditanganya.

Lelaki itu tertawa lagi mengingat pesan yang dikirimkan gadisnya.

Kemudian dia melanjutkan perjalanan. Melewati jalanan becek dan gang sempit di antara lapak pedagang. Bau sayur, ayam dan amisnya ikan tidak mengganggu penciuman. Ia bahagia menenteng sekantung penuh belanjaan yang siap ia bawa pulang.

Begitu keluar dari pasar, ia melambaikan tangan ke arah angkot untuk kemudian masuk ke dalam, duduk di kursi depan sebelah pak supir. Dia mengamati jalanan yang mulai ramai. Berbanding terbalik dengan keadaan saat pagi tadi dia berangkat ke pasar.

Lamat-lamat matanya tenggelam dalam aspal yang tergilas roda besar, berputar untuk mengantarnya ke tempat yang ia mau. Hingga akhirnya si supir memberi isyarat ia sudah sampai di tempat.

Lelaki itu turun dari angkot dan berjalan ke arah rumah berwarna biru. Dengan pagar setinggi tidak lebih dari pinggang, ia menggesernya perlahan lalu masuk ke dalam.

"Sayang... Kok lama banget sih," seru seorang wanita yang berdiri manja di ambang pintu.