Sunday, April 9, 2017

Fire

"Jalani hidupmu, lagipula ini hidupmu sendiri. Jangan coba terlalu keras. Tidak masalah menjadi pecundang."


Seorang lelaki dengan rambut merah bangun dari tidurnya. Dia memegang kepala yang berdenyut sakit. Ia berusaha mengumpulkan nyawa secepat mungkin. Lalu secara gusar mencari asal suara tadi.


Tidak ada seorang pun di sekelilingnya. Hanya ada dia. Dan beberapa benda semisal sepatu, jaket, baju kotor, berserakan di lantai.


Kepalanya kian berdenyut sakit. Lelaki itu mengerang. Menutupi kepala dengan bantal. Ini efek semalam. Minuman haram itu. Ah, menjadi candu tenyata setelah dua tiga kali mencoba. Kini, setiap malam kalau tidak meneguk cairan itu, terasa hampa hatinya.
Ia tak bisa hidup dengan cairan itu. Meski di setiap paginya, ia sukses tetsakiti cairan tersebut.


Setelah agak baikan, dia bangkit duduk. Berdiri. Berjalan menuju kamar mandi.
Keluar dari sana, wajah lelaki tersebut basah.


Dengan langkah diseret, ia menuju jendela. Sebelum benar-benar sampai, matanya diganggu sebuah benda yang terletak di nakas. Ia menghampiri benda itu.


Sepotong baju koko, peci, dan kain sarung. Serta terdapat sobekan kertas kecil di sana.


'Mama selalu berharap, kamu menjadi seorang Kyai, Nak.'


Matanya panas. Memerah. Dan setitik air menuruni rahang kerasnya.


"Aku terlalu hina ...."


Dia memandang pakaian itu lama.
Sepotong ingatan seseorang mengatakan kaliamat menohok melewati benaknya.


"Jalani hidupmu, lagipula ini hidupmu sendiri. Jangan coba terlalu keras. Tak masalah untuk menjadi pencundang," secara tiba-tiba menggaruk rambut frustrasi. Dan membuang pakaian tadi ke lantai.


Tangannya meraih laci meja. Mencari sesuatu.


Ketemu!


Sebuah korek! Korek api.


Ia memandang bergantian korek dan pakaian tersebut.


Sepotong senyum setan terbit.
Huwahahahahaha.


Bakkar!!!


"Tidak masalah menjadi pecundang. Bukan begitu?" Senyumnya kembali terbit.


Dipandangnya korek api ditanganya. Dipatikkan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat. Sialan! Kepalanya terlalu sakit sampai tanganya tak mampu mematikkan korek api.


Dia terduduk. Kepalanya terasa semakin sakit. Frustasi. Apa ini? Cairan di pipinya? Cih!


Dengan langkah tergesa lelaki itu menuju kamar mandi, membasahi wajahnya, mengganti pakaianya. Dan pergi.


Ia butuh pelampiasan. Suatu kebisingan. Membakar sesuatu (mungkin). Langkahnya tergesa sepanjang jalan. Pikiranya berkecamuk. Ia bisa gila lama lama.


Di jalan yang dia bisa hanya meludahkan kata-kata buruk. Meracau. Menggila.


"Mama selalu berharap, kamu menjadi seorang kyai, Nak."


Kata-kata buruk kembali terludah dari mulutnya.


Berkeliaran sepanjang jalan, hingga matahari terbenam. Menjalaninya seperti gelombang, hanya mengikuti dan tak punya pendirian.


"Hallo," seorang wanita dengan hijab berwarna biru tiba-tiba menyapanya.


"Assalamu'alaikum.." lanjut wanita tersebut, tersenyum.


Seketika dia menoleh ke arah asal suara dan terdiam untuk beberapa menit hingga akhirnya keluar sepatah kata dari mulutnya.


"Waalaikumsalam..."


Fiuh... mulut kotornya masih pantaskah mengucapkan salam.


"Abang mau kemana? Ke Masjid, yuk! Sudah hampir masuk shalat magribh nih," ujar wanita itu dengan senyuman menawan. Oh matahari sudah mulai terbenam rupanya. Dan wanita itu masih berdiri di hadapannya menunggu jawaban yang tak kunjung terlontar dari bibir pria itu. Dia sibuk memperhatikan senja.


"Kalau begitu saya duluan ya, Bang."


Wanita itupun berlalu dan dia hanya bisa memandanginya hingga bayangannya menjauh dan menghilang. Dia membalikkan badan, berjalan ke arah berlawanan dengan tujuan wanita itu. Dia berjalan cepat, setengah berlari. Hingga sampai di sebuah gedung tua yang dijaga oleh dua pria berwajah suram.


Dia masuk ke dalam gedung itu dan melewati kedua penjaga yang salah satunya menepuk bahu pria itu dan menghentikannya di ambang pintu.


"Bagi gue rokok dong, Yok!"


"Kagak ada Bang," ujarnya sambil melepaskan tangan penjaga itu kemudian masuk ke dalam.


Ternyata di dalam sudah mulai ramai. Riuh oleh suara debuman musik yang menghentak membikin kuping sakit. Tapi anehnya tempat ini banyak disukai terutama oleh orang-orang hilang arah seperti dirinya.


Dia melihat ke sebelah kiri, terdapat sebuah meja panjang yang dijaga oleh tiga pemuda yang siap menyediakan minuman yang akan membuatnya mabuk kepayang. Di sebelah kanan sudah dipenuhi orang-orang lupa diri. Mereka menari, laki perempuan meliuk-liukkan badan seperti kesurupan ular. Tak peduli tabrak sana tabrak sini yang penting happy. Mereka seperti sedang terbakar oleh sesuatu. Membara. Panas.
Datang ke sini semua orang dengan ketakutan.


Datang ke sini semua orang yang patah hati. Sepanjang malam dengan tangan kosong. Dengan langkah berbaris. Kita semua melompat. Kita semua menggila. Pria itu mulai bergabung dan dalam sekejap kehilangan dirinya dalam kebisingan. Membakar seolah dirinya api yang menyala dan tak mampu dipadamkan.


Angkat tanganmu dan buat kebisingan. Kita bakar di sini. Mari kita bakar di sini bow wow wow. Mari kita bakar.


DUAR....
Terdengar suara ledakan keras yang tidak diketahui asalnya. Asap putih tiba-tiba memenuhi seluruh ruangan yang menyelimuti mereka yang sedang lupa diri. Tak ada yang peduli. Semua masih menari dan menyanyi la la la. Terbakar semangat membuat mereka lupa.


Hingga ketika panas itu menjadi lebih realistis. Dan bakar menjadi kata yang nyata. Ketika mereka sadar api sudah dimana-mana. Tinggal sejengkal menjilati tubuh mereka. Barulah mereka sadar dan berlari keluar. Sementara pria itu masih berusaha menjernihkan pikirannya. Dia pikir api itu hanya halusinansi semata. Karena dia sedang merasakan semangat memuncak, membara dan api membakar dirinya hingga tiada tersisa apa.


"Fire" oleh Ainuen Nadifah, Endach Septiani,  Faranggi Eva Lutvika.



Ini adalah cerpen kolaborasi ketiga aku bersama Ainuen dan Endach. Kok sering banget sih, bikin cerpen kolaborasi. Yup... kami yang tergabung dalam organisasi Blogger Muda (yang muda yang berkarya) padahal anggotanya cuma tiga. Memiliki jadwal rutin setiap minggu untuk membuat cerpen kolaborasi yang temanya mengambil dari sebuah lagu. Setelah kemarin kami menggunakan lagu favoritku "Beauty and The Beast" yang merupakan soundtrak dari film dengan judul yang sama. Kali ini kami mencoba membuat cerpen dari lagu favorit Ainuen, yaitu "Fire" yang dinyanyikan oleh boyband asal Korea Bangtanboys atau BTS.

Sunday, April 2, 2017

Beauty And The Beast

Kisah yang sudah setua waktu, berputar kembali.


Tersenyum. Tertawa. Mengingat masa lalu membuatku ingin menceritakan pada kalian. Sebuah kisahku dan dia.


Jadi begini, kisah dimulai saat aku bertemu dengannya di depan toko permen. Dia memegang dua permen lolipop. Permen itu gonta-ganti menjamah lidahnya. Tampak cairan hijau mengalir keluar dari dua lubang hidungnya. Ingus. Dan aku bisa melihat, tidak sengaja ia menjilat ingusnya sendiri.


Pasti rasanya ... asin-manis.


Aku melihat dia sudah terlebih dahulu merasa ilfil. Lelaki itu mendapat nilai negatif dariku.


Jorok!


Dan ...


Ada tanda lahir besar di pipinya. Gigi ompong. Berkacamata. Rambut belah tengah.


Dia jelek.


Sangat jelek.


"Hai cantikk."


Dia menyapaku? Menyapaku?


"Hai ...," ketakutan.


"Ini untukmu," dia menyerahkan satu lolipopnya padaku.


Aku menerimanya dengan ragu. Hanya berusaha bersikap sopan  dengan menghargai pemberian orang.


"Mau nggak jadi pacarku?" tidak ku sangka-sangka di mengeluarkan sekuntum mawar merah dari balik tubuhnya.


Mata ini membulat. Dan bibir pun melongo membentuk huruf 'O'.


"Hey! Umur kita masih 7 tahun."


Setiap mengingat kisah tua itu, aku selalu ingin tertawa. Pertemuan pertama yang menggelikan. Seenaknya menyatakan perasaan pada orang. Padahal kita sama sekali belum mengenal.


Dan ... namaku bukanlah cantik.


Tapi dia mengatakan kalau aku cantik. Itu sebabnya dia menyatakan cinta padaku.


Kulihat dia tertawa. Hanya sedikit perubahan dari caranya tertawa. Yakni bertambahnya lesung kecil di dagu.


Kisah itu entah kenapa terputar kembali dalam benakku. Serampangan aku menceritakan pada dia "si penjilat ingus"


Dia tertawa lagi, kemudian memparodikan caranya menjilat ingus. Kali ini aku tak merasa jijik, sedikit ilfil memang. Namun lucu saja melihatnya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku 10 tahun lalu," ucapnya, berhenti dari candanya.


"Pertanyaan yang mana?" tentu saja aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Tapi aku merasa tak ingin membalasnya.
Terlalu picik memang, mengingat sejujurnya aku kurang menyukai penampilanya saat ini maupun 10 tahun yang lalu.


"Kalau kamu liat ini, pasti kamu ingat," ucapnya dengan merogoh tas selempangnya.


Permen lolipop.


Lalu cerita tua itu seolah kembali terulang ketika dia membuka bungkus lolipopnya dan mulai menjilati setiap inci lempengan kecil berwarna pelangi. Namun kali ini tanpa ingus seperti kisah tua itu.


Reaksikupun berbeda sudah tidak memandangnya dengan perasaan jijik aku justru tertawa melihat tingkahnya.


Kami sama sekali bukan teman, hanya kebetulan bertemu tanpa diduga-duga. Memulai kembali kisah lama. Meskipun harus ku katakan, dia tidak setampan pangeran dalam kisah dongeng yang sering ku baca. Datang tanpa kuda putih dan keretanya.


Tapi aku tidak bisa berpura-pura bahwa kehadirannya menghidupkanku kembali, memberi setitik cahaya seperti lilin-lilin kecil di tengah goa yang mulai menghampa.


Kehadirannya mengisi salah satu ruang kosong di hatiku, tapi yang aku tahu bukanlah dia si buruk rupa. Melainkan aku.


"Bella... Waktunya minum obat," Ibuku muncul dari belakang.


Sebelum menarik kursi roda yang kini berperan menggantikan kedua kakiku yang hilang, Ibu melihat ke arah pria itu. Melemparkan senyum lalu membawaku masuk ke dalam rumah.


Akankah dia mampu menerimaku?


Friday, March 31, 2017

Mencari Angin

Aku berdiri di bawah butiran-butiran bening yang menyerangku. Keroyokan. Sepertinya mereka tak mampu menghadapiku satu persatu. Pengecut. Pecundang kalian. Kalau berani lawan aku dengan tombak petir milik Zeus yang kau pinjam.

Aku masih berdiri menantang hujan.

Basah semua dari ujung kepala sampai ujung kaki. Basah yang mengingatkanku pada rindu. Karena seriap menatap hujan yang terlintas di benakku hanya senyum nakalmu.

Kenapa kamu pergi?

Aku berlari menyusuri hujan berharap menemukan angin yang telah pergi. Jangan pergi kemarau. Tetaplah kering seperti hatiku yang gersang semenjak angin itu berembus untuk yang terakhir kali dengan membisikkan kata selamat tinggal.

Di mana lagi aku bisa mendapatkan orang sepertimu, mencari senyum yang sama nakalnya dan merindu seperti punguk yang selalu menatap bulan dari kejauhan.

Dengan apalagi aku bisa menggantikanmu.

Kalimat itulah yang selalu terkenang semenjak anginku hilang. Seolah hariku hanya dipenuhi hujan dan air mata. Di dalam ada hati yang senantiasa merindunya. Menunggunya jika saja dia menyapa dan kembali dengan kata penyesalan karena telah pergi.

Hingga ketika aku sadar aku hanya berdiri di pinggir hujan. Berada di antara kenangan dan masa depan. Masih berusaha melepaskannya satu persatu, dengan iman aku percaya setiap butiran-butiran hujan mampu membawa kenangan tentang anginku pergi. Ku lepaskan satu persatu hingga genap dan semuanya lenyap di bawah gemericik hujan menuju sungai dan bermuara di pantai. Tempat paling akhir untuk sebuah kenangan dan luka masa lalu.


“Gi, masuk yuk. Designer baju pengantin kita sudah datang,” ujar seorang pria yang di jari manisnya melingkar sebuah cincin yang sama dengan cincin yang ku punya.



Banyuwangi, 30 Maret 2017

Saturday, March 25, 2017

Cause My World Is Full With You

Ini merupakan cerpen kolaborasi dari penulis hebat dan terkenal sejagad hmmm sejagad apa ya? Ya pokoknya terkenal lah. Tergabung dalam kelompok menulis yang bernama #BloggerMuda. Sebuah grup yang isinya cuma bertiga. Eksklusif hanya untuk tiga orang saja. Lagian siapa juga yang mau gabung ya?!!!

Terimalah persembahan dari kami bertiga. Aku yang paling unyu sendiri.



Karya: Anggi, Ainuen, Endach


Seorang lelaki memberikan sejumlah uang pada pedagang. Ia mengambil barang yang baru saja dibelinya. Kemudian menenteng barang tersebut dengan senyum bersinar bahagia.

Ponsel di saku celana bergetar. Lelaki itu mengambilnya, kemudian membaca pesan yang tertera di sana.

"Awas!! Jangan selingkuh!"

Itu adalah kekasihnya. Lelaki tersebut tersenyum makin bahagia.

Jauh di sana, kekasih lelaki itu sedang mencari ilmu. Tepatnya pada negeri orang. Jarak terbentang amat jauh. Sungguh menyiksa masing-masing hati.
Selain menyiksa, jarak itu sedang menguji kesetiaan mereka.

"Jangan lirik wanita lain!!"
Satu pesan baru masuk.

Lelaki itu melirik sekitar  kerumunan pasar. Banyak wanita di sana. Tapi ... anehnya, kenapa semua wanita berwajah sama dengan gadisnya?

Tak luput dari pandanganya lelaki-lelaki di pasar itu pun memiliki wajah yang begitu serupa denganya.

Lalu bagaimana ia dan kekasihnya bisa menjalin hubungan jika wanita dan lelakinya memiliki wajah yang serupa?

Ah.. jangan tanyakan itu padanya. Karena ia tak punya jawabanya. Tapi yang pasti ia begitu mencintai sifat posesif wanitanya.

Posesif. Benar. Ponsel yang masih di pegang lelaki itu bergetar lagi. Kekasihnya.

"Jangan selingkuh!"

Lelaki itu tertawa, memandang sekeliling lagi. Wanita-wanita itu memang memiliki wajah yang serupa dengan kekasihnya. Tapi tidak memberikan perasaan yang serupa seperti yang bisa kekasihnya lakukan.

Dipandangnya gelang couple berwarna hijau ditanganya.

Lelaki itu tertawa lagi mengingat pesan yang dikirimkan gadisnya.

Kemudian dia melanjutkan perjalanan. Melewati jalanan becek dan gang sempit di antara lapak pedagang. Bau sayur, ayam dan amisnya ikan tidak mengganggu penciuman. Ia bahagia menenteng sekantung penuh belanjaan yang siap ia bawa pulang.

Begitu keluar dari pasar, ia melambaikan tangan ke arah angkot untuk kemudian masuk ke dalam, duduk di kursi depan sebelah pak supir. Dia mengamati jalanan yang mulai ramai. Berbanding terbalik dengan keadaan saat pagi tadi dia berangkat ke pasar.

Lamat-lamat matanya tenggelam dalam aspal yang tergilas roda besar, berputar untuk mengantarnya ke tempat yang ia mau. Hingga akhirnya si supir memberi isyarat ia sudah sampai di tempat.

Lelaki itu turun dari angkot dan berjalan ke arah rumah berwarna biru. Dengan pagar setinggi tidak lebih dari pinggang, ia menggesernya perlahan lalu masuk ke dalam.

"Sayang... Kok lama banget sih," seru seorang wanita yang berdiri manja di ambang pintu.

Monday, March 20, 2017

Friday

“Di mimpiku kamu terlihat bahagia, aku senang. Dalam mimpiku itu kamu terlihat sibuk mewujudkan karya tanganmu jadi lebih nyata.”

Entah kenapa hari ini aku terbangun dengan sebuah pesan yang ku baca ulang. Setiap kata yang terangkai aku resapi perlahan hingga sadar, aku baru bangun diri mimpi. Ya mimpi, di hari ini meski bukan hari jumat tapi aku teringat tentang janji dan mimpi. Aku tahu meski aku tidak pernah berada di dalam mimpimu di tidur selepas sepertiga malam.
Ah dengan apakah aku harus menyebutmu? Kenangan? Jumat? 911? Atau angin?

Aku benci angin.
Seumur hidup aku berurusan dengan angin. Berembus sekejap lalu hilang selamanya. Yang ditinggalkan hanyalah gersang.
Aku berdoa, semoga kamu bukanlah angin. Tapi angin tetaplah angin. Tidak pernah kembali ke tempat pertama dia berembus.
Entah kamu ingat atau tidak.
Kita telah meliwati hari dimana kita ditakdirkan bertemu meski tak pernah terselesaikan. Meski sudah dua periode terlewati tapi rasa ini belum juga menemukan kata sudah.

Semoga kamu mengerti.

Sunday, March 19, 2017

The Clan Of The Dragon (Chapter 1)

Pemuda itu di seret menuju garis pantai Lindisfarne, usianya yang masih belasan membuatnya tidak mampu mengalahkan otot-otot kekar yang menariknya untuk kemudian mengikat kaki dan tangannya lalu melemparkannya ke bibir pantai.

Beberapa kali pemuda itu berteriak meminta tolong, namun tidak ada yang berani mendekat, mata-mata itu bersembunyi dibalik jendela dan pintu yang ditutup rapat. Sementara Mr. Smith yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pemuda tersebut hanya bisa berusaha mengenyahkan rasa iba. Ketika dia harus melihat mata pemuda itu menangis memohon ampun.

Tidak ada satupun dari mereka yang menginginkan hal ini terjadi, mereka bertranformasi menjadi algojo dalam semalam dan keesokan harinya kembali menjadi nelayan.

"Lakukanlah!" Mr. Smith memberikan sebilah belati yang telah diasahnya siang tadi kepada Phillip. Dia merasa tidak akan sanggup melakukannya dengan tangannya sendiri.

Phillip menerima belati dari Mr. Smith, tangannya bergetar. Dia menoleh ke arah pemuda yang tergeletak di tanah dengan tangan dan kaki terikat. Pemuda itu memejamkan mata, berharap Phillip melakukan tugasnya dengan cepat dan tanpa rasa sakit.

Phillip berjalan ke arah pemuda itu kemudian berjongkok di depannya. Dia mengacungkann belati bersiap menusuknya lalu merobek lehernya, untuk membuat pemuda itu mati kehabisan darah untuk kemudian melemparkannya ke tengah lautan sebagai tumbal.
Namun tiba-tiba sebuah anak panah melesat ke arah Phillip dan menjatuhkan belati dari tangannya.

Sesosok pria berdiri di antara kegelapan dengan mengangkat busur dan membidiknya ke arah Phillip.

"Lepaskan pemuda itu! Kali ini dia tidak akan membiarkan anak panahnya meleset lagi," seorang pria keluar dari balik kegelapan diikuti dua pria lain. Dengan pakaian serba hitam yang membuat mereka nyaris menyatu dengan kegelapan.

"Klan Naga," bisik Mr. Smith, "Ku kira mereka hanya legenda. Mr Smith yakin anak panah pria itu bukannya meleset tapi sengaja membidik belati yang ada di tangan Philip.

Tanpa diduga Phillip kembali mengambil belati yang terjatuh di tanah dan nyaris menusukannya ke leher pemuda itu, gerakannya terhenti ketika anak panah kali ini melesat tepat mengenai lenganya. Phillip berteriak, terjatuh dan menggeliat di tanah.

Beberapa detik kemudian sebuah mata pedang tepat berada di depan leher Phillip.

"Kau tidak akan mengerti, aku tidak peduli sekalipun kau adalah Klan Naga. Tapi kami harus tetap hidup, desa ini harus tetap hidup," Phillip berteriak sambil menahan sakitnya, suaranya bergetar menambah kengerian malam.

"Apa harus dengan cara mengorbankan seseorang? Kami ada di sini, kami akan membantu menyelesaikan masalah kalian."
"Kami memiliki masalah besar," sahut Mr. Smith.
"Aku adalah Elston Hall, dia Flint Campbell," menunjuk pria yang memegang busur panah, "mereka mereka adalah Tory Cromwell dan Haley Giffin. Kami akan membantu kalian," pria yang ternyata bernama Elston Hall itu menurunkan pedangnya dan melepaskan ikatan pada tangan dan kaki pemuda itu.

"Terima kasih," ujar pemuda itu dengan suara tertahan dan ketakutan.

"Siapa namau, Nak?"

"Will."

Elston menarik tubuh Will untuk bangkit dan menyuruhnya pergi, kembali ke desa.

Sementara Elston berjongkok di depan Phillip yang terluka cukup parah di bagian lengan kirinya.

"Kau tidak apa-apa?"

"Kau telah membuat Shoney marah," bisik Phillip.

Friday, March 3, 2017

Kuliner Seru Bareng Asus ZenFone 2





Assalamualaikum. Sudah lama nih, nggak posting di blog. Mungkin ada yang kangen sama Anggi yang selalu semangat? Kalau nggak ada ya sudah aku pulang aja. Mau selfie-selfie lagi pake Asus ZenFone 2. Oh… jadi sekarang nggak pernah nongol gara-gara sibuk selfie? Ya iya dong, gimana nggak. Dengan kamera 13 megapixel yang mampu menghasilkan tangkapan gambar berkualitas, termasuk dalam kondisi low light. Jadi nggak heran kan kalau sekarang aku lagi hobi jepret sana jepret sini. Padahal nggak ngerti soal fotografi, tapi aku yang memang hobi berwisata kuliner sepertinya kurang lengkap kalau nggak ditemenin sama Asus ZenFone 2.

Yah, meskipun nggak jago seperti Om Djangkaru Bumi tapi berkat PixelMaster Camera hasil fotonya nggak kalah keren loh. Salah satu yang paling menarik apalagi kalau bukan fitur High Dynamic Range atau yang biasa dikenal dengan HDR yang bertujuan menangkap rentang tone selebar mungkin dalam situasi kontras tinggi dan highlights hingga shadow. Nah kalau mau selfie pakai Asus ZenFone 2 ini nggak perlu ribet, dengan design lengkung yang memiliki control intuitif dengan tombol belakang yang berfungsi memotret selfie dan mengatur volume. Jadi nggak ribet kalau mau selfie pengang hapenya pake tangan kanan atau kiri. Gimana nggak selfie mulu ya, kerjaannya kalau begini. Termasuk saat ketemu sama kuliner unik. Seperti yang satu ini.



Mi Nyonyor

Mi Nyonyor level berapa ini ya, lupa. pokoknya nuendang badai.

Buat yang suka pedas, wajib kudu harus coba kuliner satu ini. Terutama bagi kamu kamu pecinta mi seperti aku. Mi Nyonyor, kenapa sih dikasih nama Mi Nyonyor? Kalau dalam Bahasa Inggris *PLETAKK (Bahasa Jawa) Nyonyor itu berarti dower. Apa sih, artinya dower? Oh my God aku nggak bisa mendeskripsikan arti nyonyor yang sebenarnya. Ya, pokoknya setelah kalian makan Mi ini bibir kalian bakal merasa terbakar dan nyonyor kaya di iklan minuman Jepang itu tuh.

Mi Nyonyor level 3 pesanan Riska, Mi Ramen level 0 pesanan Dessy dan Mi Ramen susu pesananku

Mi Nyonyor ini sebenarnya bukan kuliner khas Banyuwangi sih, karena Mi ini cabangnya sudah tersebar di beberapa Kota di Indonesia. Di Banyuwangi sendiri pun memiliki banyak cabang. Yang paling dekat dari rumah sih, berada di jalan Candian dekat dengan Stasiun Kota Rogojampi.
 
Kamu bisa mencoba Mi dengan level kepedasan yang cocok untukmu. Dari level 1 sampai 10. Yang nggak suka pedes dan mau cobain juga bisa kok, disediakan level 0 buat kamu yang mau nyonyor. Selain Mi Nyonyor dan Mi Nyonyor lada hitam ada juga ramen yang juga bisa disesuaikan level pedasnya.

 Mi Ramen

Nggak cuma sedap, tempatnya pun asyik buat nongkrong. Ada wallpaper menarik yang bisa dijadikan background saat selfie pake Asus ZenFone 2. Bukan cuma makan tapi eksis juga nggak boleh lupa.

 Sebelum pesanan datang, yuk selfie dulu bersama Riska dan Dessy pakai Asus Zenfone 2.

Sego Cawuk

 Nasi cawuk Mak Mantih yang melegenda.

Nah, kalau yang ini khasnya Banyuwangi. Kalau kamu mampir ke Banyuwangi nggak afdol kalau belum nyobain Sego Cawuk atau Nasi Cawuk. Yang paling terkenal itu ada di depan Stasiun Rogojampi. Namanya Nasi Cawuk Mak Mantih. Jangan lihat tempatnya yang sederhana ya, meski cuma jualan di pinggir jalan dan pake tenda sederhana tapi Nasi Cawuk Mak Mantih ini sudah melegenda loh. Soalnya sudah ada sejak Ibu ku masih sekolah SMP.



Mak Mantih ini kira-kira usianya udah berapa ya?

Nasi Cawuk adalah nasi yang disiram dengan kuah pecel. Pecel di sini beda sama pecel kacang ya. Pecel di sini ini terdiri dari campuran timun, jagung, parutan kelapa dan santan. Setelah itu dicampur dengan ikan pindang kuah. Untuk lauknya kita bisa memilih sesuai selera. Ada ikan pepes, pepes cumi, telur, ayam goreng, ikan goreng. Hmmm hauce ping ping ping ya.

 Nasi Cawuk. hmmm yummy.

Warung ini buka dari pukul 6 pagi sampai 9 siang. Pokoknya jangan datang di atas jam 9 karena sudah pasti dijamin ludes dan bakal gigit jari karena kehabisan.


Sempol

Sempol Laros.

Kalau kuliner yang satu ini awalnya aku kurang tertarik. Biarpun kuliner yang katanya khas Malang ini lagi happening di Banyuwangi khususnya daerah Kota Genteng. Karena jajanan ini bisa kita temui di setiap sudut Kota Genteng. Dengan gerobak yang menarik dan bikin penasaran, akhirnya aku mampir juga ke salah satu penjual sempol yang bernama “Sempol Laros” Laros singkatan dari “Lare Osing” yang artinya Anak Osing (Osing: suku asli Banyuwangi). Sebenarnya rasa penasaranku dimulai akibat dua anak ini.

Inda dan Sintia lagi menikmati sempol bersama Mbak Wenny.

Mereka adalah muridku yang suka banget makan Sempol. Akhirnya tertarik juga lah aku dan beli beberapa tusuk Sempol Laros. Sekilas Sempol ini mirip sama cilok. Cuma dengan penyajian yang berbeda, bentuknya pipih dan ditusuk pake bambu lalu dicelup ke telur untuk kemudian di goreng. Ada beberapa varian rasa yang bisa dicoba, ada Sempol ayam, udang dan ikan.

 Sempol mentah.

 Sempolnya lagi digoreng.

Sempolnya masih panas.

 Harganya nggak bikin kantong protes.

 Cie Mbak Wenny lagi pose manis di depan sempol laros.

Kuliner ini cukup mudah ditemukan karena kebanyakan mereka berjualan berkeliling atau mangkal di pinggir jalan. Bahkan nggak susah menemukan gerobak sempol di mall. Seperti satu ini, salah satu gerobak sempol yang berada di Sun East Mall Genteng.


 Gerobak sempol di Sun East Mall, Genteng.

Nah, berwisata kuliner sambil ditemenin Asus ZenFone 2 itu seru, bodynya yang slim dan bentuknya yang sempurna dengan sisi ultra tipis. Yang ada nih, lebih sering kenyang duluan gara-gara jepret sana-sini sampai lupa makan.

Apalagi kalau lihat hasil fotonya yang keren-keren, ini karena Asus ZenFone 2 memiliki  mode pemotretan di antaranya, mode auto, modus malam, panorama dan HDR. Mode depth on field dapat mengambil dua gambar sekaligus dan menggabungkannya dalam satu gambar dan membuat latar belakang kabur.

Sedangkan di menu settings terdapat fasilitas ISO, white balance dan pengaturan exposre. Ada juga tombol untuk mengatur flash. Lengkap kan. Pokoknya seru deh, berwisata kuliner ditemenin sama Asus ZenFone 2.






Makanya hape ini jadi laris manis dipinjem buat selfie sama murid-muridku. Bayangkan ya, kalau aku kenakan tarif per/jepretnya. Aku bisa kaya raya hahahah *plakk.



Berwisata kuliner udah, jepret-jepret selfie udah. Nah, sekarang jangan lupa ikutan Blogging Competion : Jepret Kuliner Nusantara Dengan Smartphonemu. Sekalian aku juga mau ngucapin selamat ulang tahun buat Gandjel Rel yang ke-dua ya. Meskipun udah lewat beberapa hari, yang penting mengucapkan daripada tidak sama sekali *ngelesnya pinter banget nih, bocah. Sukses terus buat Gandjel Rel


Tulisan ini diikut sertakan dalam Blogging Competition : Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphonemu yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.