Monday, June 19, 2017

ASUS E202 Temaniku Setiap Langkah




Teman terbaik saat bermimpi adalah alam. Langit biru yang terbentang di sepanjang selat yang menghubungkan Kota Banyuwangi dan pulau dewata Bali ini contohnya. Aku suka berlama-lama duduk di antara angin dan debur ombak yang membawa imajinasiku mengarungi samudera tak terbatas. Aku mencintai proses senja di mana matahari seolah termakan oleh waktu tapi dia berjanji akan kembali saat fajar nanti. Itulah janji yang abadi, seperti janjiku yang telah terikrar beberapa windu lalu. Sejak pertama kali membaca novel karangan Dee. Aku berjanji tidak akan berhenti menggoreskan pena di atas kertas pujaannya. Seolah mereka jodoh yang telah terikat sumpah. Seperti itu pulalah sumpahku.
Meskipun dewasa ini media menulisku sudah berganti, maklum lah.



Zaman sudah modern dan kita dituntut mengikuti arus agar tidak tergerus oleh percepatan musim. Untung saja sekarang ada Asus EeeBook E202. Dengan bobot hanya 1,25 kg ini dan ukuran yang tidak lebih besar dari kertas berukuran A4 menjadikannya mudah saat dibawa kemana saja. Design Asus EeeBook E202 yang cukup minimalis namun tetap elegan ini memiliki layar 11,6 inci dan didukung dengan resolusi HD 1366 x 768 pixels yang membuat aku tetap dapat menikmati konten multimedia dengan kualitas baik, cocok juga tuh buat yang hobi nonton film karena juga terdapat dua buah speaker berteknologi SonicMaster yang dapat menghasilkan suara jernih.



Drrrrtttt… drtttt…..



Tiba-tiba saja ponselku berbunyi, whatsapp dari salah satu rekan mengajarku yang memintaku mengirimkan hasil foto acara perpisahan di sekolahku pekan lalu. Untung saja Asus EeeBook E202 ini sudah dilengkapi konektivitas USB type-C 3.1 yang memiliki kecepatan transfer data hingga 5Gbps. Menjadikan Asus EeeBook E202 laptop 11,6 inci satu-satunya yang pertama menawarkan USB type-C 3,1. Jadi mengirim data bisa lebih mudah dan cepat ya, karena Asus EeeBook E202 juga dilengkapi WiFi802.11ac dan Bluetooth 4.0 yang juga mampu memindahkan data secara cepat. Pekerjaan apapun jadi lebih mudah bersama Asus EeeBook E202.

Membagi waktu di sela-sela mengajar, mengurus bisnis hijab yang baru saja aku rintis sembari tetap melakoni hobi menulisku memanglah tidak mudah. Apalagi dengan beberapa kesibukan yang mengharuskanku lebih sering berada di luar rumah dibanding duduk manis di meja samping tempat tidur, yang belakangan menjadi sesuatu yang langka bagiku. Sementara menulis bagiku tak hanya sekadar memainkan jari jemari di atas papan keyboard. Tapi juga membangun imajinasi seliar mungkin dan hal itu membutuhkan ketenangan, meski tidak memungkiri bahwa menulis bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

“Gi, sudah sore nih. Kita kan mau ketemu Mbak Lina,” seru Desi yang membuatku membalikkan badan dan menoleh ke arah wajahnya yang sebagian tertutup sinar matahari cerah hari ini.

Astaga, aku lupa memiliki janji dengan Mbak Lina salah satu suplierku. Aku bergegas memasukkan Asus EeeBook E202 ke dalam ransel dan berlari menjemput Desi.



“Kalau sudah duduk di pinggir pantai sambil nyari inspirasi pasti lupa sama semua hal,” celetuk Desi saat aku telah berada di dekatnya, yang hanya aku balas dengan nyengir kuda.



Sesampainya aku di tempat yang telah di sepakati bersama oleh Mbak Lina, aku kembali mengeluarkan Asus EeeBook E202 dari tas ranselku dan mulai menyalakannya kembali. Suasana taman yang ramai dikarenakan akhir pekan yang tak hanya dipenuhi oleh pengunjung yang sengaja datang untuk mengisi waktu menunggu buka puasa, tapi ada juga komunitas pecinta reptil dan komunitas pecinta motor yang sedang melakukan atraksi free style. Aku, Desi dan Mbak Lina sengaja memilih sudut taman yang sepi untuk membicarakan mengenai bisnis hijab yang baru aku mulai bersama Desi. Kami bertiga duduk bersila di atas rerumputan hijau taman. Dibarengi suara gurau beberapa anak laki-laki yang bermain bola di seberang kami.



Setelah urusanku bersama Mbak Lina beres, aku kembali fokus dengan Asus EeeBook E202 yang membuatku mendapat teguran keras dari Desi.

“Kemana-mana bawa laptop. Emang nggak berat?” celetuk Desi yang membuatku menutup laptopku dan mengembalikan perhatianku padanya.

Dengan tersenyum aku hanya menjawab, “Nggak dong. Asus EeeBook E202 dengan bobot cuma 1,25kg ini mudah dibawa kemana aja, udah gitu ukurannya yang nggak lebih besar dari kertas A4 yang bikin aku nggak perlu bawa ransel besar, emangnya mau camping ke Pulau Tabuan apa.”

“Wah keren ya, designya juga bagus,” Desi mengambil Asus EeeBook E202 ku dan memeriksanya.

“Design Asus EeeBook E202 emang dinamis tapi tetap elegan, pilihan warnanya juga keren. Kalau itu warnanya Silk White ada juga yang warnanya Black, Dark Blue, Thunder Blue dan Red Rouge.”

Tersedia pilihan warna cantik


Asus EeeBook E202 Thunder Blue
Asus EeeBook E202 Dark Blue
 
Asus EeeBook E202 Silk White

Asus EeeBook E202 Red Rouge


“Tampilan sih keren, tapi Asus EeeBook E202 canggih nggak?”

“Ih, Desi… Asus udah nggak perlu dipertanyakan lagi soal kualitasnya di Indonesia, asal kamu tau yah, Asus EeeBook E202 pertama dan satu-satunya laptop 11,6 inci yang dilengkapi USB Type-C 3.1 loh.”

“Wah keren…. Kalau prosesornya?”

“Asus EeeBook E202 menggunakan prosesor Intel Celeron N3060 Dual-Core berkecepatan hingga 2,1 GHz, RAM 2GB, penyimpanan internal HDD 500GB dan sudah langsung menjalankan system operasi windows 10.”

“Tapi Gi, kalau bawa notebook kemana-mana kan susah ngechargenya, kalau baterainya habis. Percuma dong.”

“Jangan galau Des, Asus EeeBook E202 memiliki kelebihan pada baterai yang mampu bertahan selama 8 jam penggunaan. Karena Asus EeeBook E202 telah dibekali Intel Celeron generasi ke 5 (Braswell) yang hanya mengkomsumsi daya sebesar 6 watt saja sehingga membuat baterai awet dan tidak cepat terkuras. Nah, berkat penggunaan tingkat daya yang sedikit ini membuat Asus EeeBook E202 dapat mengusung design tanpa kipas daya akibat panas yang dihasilkan tidak terlalu tinggi. Jadi selain awet daya baterai Asus EeeBook E202 juga nggak mengeluarkan suara bising.”




“Tapi Gi,”

“Tapi tapi terus ih, Desi. Tenang aja kok, Asus EeeBook E202 udah dibekali port USB 3.1 Type-C yang membuat pengisian daya ulang lebih cepat.”

“Waduh aku udah nggak bisa berkata-kata lagi deh, keren banget ya Asus EeeBook E202.”

“Iya dong, nih aku kasih beberapa alasan kenapa kamu harus pilih Asus EeeBook E202, biar tambah yakin
1.      Memiliki daya tahan lama hingga 8 jam penggunaan dan isi ulang cepat dengan port USB 3.1 Type-C
2.      Mudah dibawa kemana saja dengan ukuran yang tidak lebih besar dari kertas A4 dan bobot seringan 1,25kg
3.      Asus EeeBook E202 pertama dan satu-satunya laptop 11,6 inci yang dilengkapi USB Type-C 3.1
4.      Tidak berisik. Karena didesign tanpa kipas berkat penggunaan daya yang tidak terlalu tinggi membuat Asus EeeBook E202 tidak cepat panas.
5.      Design dinamis dengan kesan elegan memiliki pilihan warna cantik seperti Black, Silk White, Dark Blue, Thunder Blue dan Red.
6.      Sudah langsung menjalankan system Windows 10.
Asus EeeBook E202 memang lebih mementingkan mobilitas dan fungsionalitas untuk memenuhi kebutuhan komputasi sehari-hari. Itu sebabnya Asus EeeBook E202 memiliki design dengan  Touchpad lebar agar nyaman digunakan. Pokoknya Asus EeeBook E202 bakal menunjang setiap aktifitas keseharian kita, jadi meski sibuk tetep bisa kreatif bareng Asus EeeBook E202.”

“Sepertinya aku harus punya Asus EeeBook E202 nih. Nanti habis buka puasa anterin aku beli Asus EeeBook E202 ya, Gi!”

“Ih habis buka puasa kita kan Shalat Tarawih Des.”

“Oh, iya. Habis aku udah nggak sabar sih, pengen punya Asus EeeBook E202 juga.”

“Tenang Des, kalau kamu mau punya juga Asus EeeBook E202 kamu bisa ikutan juga Blog Competition yang diadakan oleh uniekkaswarganti.com. Ada 10 unit Asus EeeBook E202 yang akan diberikan kepada 10 pemenang.”

“10? Serius?”

“Ya serius dong. Buruan deh ikutan! Deadlinenya sampai tanggal 22 juni besok loh. Cek syarat dan ketentuannya di sini ya! uniekkaswarganti ”





“Yaudah deh yuk, kita pulang. Aku mau ikutan Blog Competitionnya uniekkaswarganti.com, yang didukung penuh oleh Asus” tiba-tiba saja Desi bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkanku dengan memeluk erat Asus EeeBook E202 milikku.

“Eh tunggu, Asus EeeBook E202 ku mau dibawa kemana?”


THE END



Kisah Anggi, Desi dan ASUS E202 ini diikut sertakan dalam Blog Competition ASUS E202 yang silenggarakan oleh uniekkaswarganti.com ada 10 ASUS EeeBook E202 yang siap dibagikan bagi para pemenang. Untuk teman-teman yang berminat ikutan juga. Deadlinenya sampai tanggal 22 Juni 2017. Yuk buruan ikutan.


Semoga Desi beruntung ya, dan berhasil memenangkan  ASUS E202 yang silenggarakan oleh uniekkaswarganti.com

Wednesday, May 31, 2017

Angin Apa Yang Membawamu Kembali?



Semilir angin musim kering ini mengingatkanku pada satu janji. Kamu berujar seolah-olah pasti, seolah aku dan kamu cinta sejati. Tapi ketika aku menyadari angin itu telah tertelan ombak dan buih, aku bisa apa selain duduk terdiam di pinggir samudera. Memang aku tidak pernah kamu bawa masuk, hanya duduk di ambang pintumu. Tidak masuk tidak juga keluar. Hingga saat ini, aku menunggu di ambang pintu.

Di antara karang dan debur yang mendayu-dayu seolah lagu sendu yang sedang bergurau, sementara aku patah sepatah-patahnya.

Lalu untuk apa kamu menyapa? Sekadar menanyakan kabar dan laki-laki baruku? Dia bukan apa-apa sebab kamu masih menggangguku. Mengacaukan pikiranku dengan sekali datang lalu pergi. Khas seorang angin.

Angin apa yang membawamu kembali?
Setelah sekian lama berembus pergi.
Angin apa yang membuatmu pulang?
Meningat mungkin aku bukanlah rumah bagimu yang tak akan pernah mengucapkan selamat datang.
Sama seperti ketika kamu pergi.

Tidak ada ucapan perpisahan atau selamat tinggal yang berarti cukup sampai di sini aku tidak mau kamu kembali.

Tapi kamu datang, menyapaku meski hanya singkat. Tahukah itu cukup membuatku berharap? Tahukah, itu cukup berarti sehingga aku berani bermimpi kamu akan membawaku pergi, berembus bersama, terbang berdua ke tempat yang dulu pernah kamu sebut rumah.

Dengan caramu memanggilku walau hanya berupa nama, ya kita telah lalui beberapa masa di mana aku menjadi namaku di setiap ujarmu yang menjadikan itu indah. Lalu sesekali kamu menyapa.

“Gi.”

Itu membuatku berani bermimpi bahwa kalimat selanjutnya adalah, “Maukah kamu menikah denganku.”


Friday, May 26, 2017

Banyak Cerita di Ramadan Pertama

Assalamualaikum....

Saya hadir kembali setelah kemarin sempat bercerita tentang "The Legend of Somplak" Kok sekarang jarang bikin cerpen yah? Haduh iya tuh. Gimana nih, buat mengembalikan semangat menulis saya. Sedikit cemas sih, gara-gara vacum kemarin dan fokus sama kesibukan di luar jadi jarang nulis. Padahal kesibukan sih, bukan alasan. Harusnya saya tetap bisa menulis cuma gara-gara malas terus mengatasnamakan kesibukan jadi ya begitu deh. Manja.

"Hanya ada dua rahasia penulis hebat di dunia ini yaitu, banyak membaca buku-buku yang berkualitas dan banyak praktek menulis setiap hari."

Kalimat itu bagaikan tamparan bagi saya, padahal saya percaya selama masih memiliki dua tangan, jari-jari ini tetap bisa menari, di atas keyboard komputer, keypad ponsel ataupun pakai cara lama, menari-nari bersama pena. Padahal saya salah satu pengagum J.K Rowling. Harry Potter tidak tercipta di atas keyboard komputer termahal di dunia, tidak diketik di dalam ruangan dengan dekorasi terindah, atau di depan pemandangan alam yang menakjubkan.

Tapi saya, begitu banyak alasan hingga melupakan janji untuk tetap menulis setiap hari. Dasar manja. Yeah, sebut saja saya penulis manja. Dasar...

Tapi gimana lagi dong, saya harus membagi waktu antara mengajar, merintis bisnis hijab yang baru saya mulai dan jalan-jalan bersama Somplak. Plakk.


Kebetulan kegiatan di sekolah saya sudah berhenti di awal bulan Ramadan ini dan baru mulai masuk lagi nanti seusai lebaran. Meskipun tugas dari sekolah lumayan ribet nih, untuk tahun ajaran baru mendatang. Yeah tapi masih bisa leha-leha, santai, ngedibug, guling-guling di rumah lah selama sebulan ini. Selain itu saya mau mulai menulis lagi. Melanjutkan draft draft yang terbengkalai.


Dan yeay...
Kita bertemu lagi di bulan Ramadan. Sempat ada ketakutan juga sih, kemarin. Bisa tidak ya saya bertemu dengan Ramadan lagi. Karena satu bulan rasanya begitu cepat. Masih ingin tarawih, tadarus, sahur bersama. Tapi rasanya sekarang pun percuma. Cerita di bulan Ramadan akhir-akhir ini tidak sesemarak ketika aku masih kecil. Sepulang dari shalat tarawih barusan sambil ngobrol sama Kiki. Bahwa dulu saat bulan Ramadan biasanya ada acara patrol keliling kampung, kalau sekarang lebih suka bangun pakai alarm sendiri sendiri, kalau dulu ada perang meriam bambu kalau sekarang pakai petasan yang bahaya (eh btw meriam bambu sama petasan lebih bahaya mana?), kalau dulu tadarusan di Mushola atau Masjid bisa sampai tengah malam tidak jarang sampai menjelang sahur, kalau sekarang pukul 10 malam saja sudah pada bubar, kalau dulu Masjid Masjid atau Mushola penuh di awal malam tarawih, kalau sekarang. Tadi saja saat berangkat tarawih dua gadis yang sedang duduk-duduk di depan rumahnya melihat dengan wajah curiga, begitu pula sama nenek-nenek yang nyeletuk, "Kari isuk lak budal." Intinya saya dianggap terlalu awal berangkat ke Mushala yang jaraknya lumayan dari rumah.

Baru pindah rumah sih, kalau kemarin jarak dari rumah ke Mushola yang hanya berjarak beberapa rumah jadi bisa nyantai dikit berangkatnya. Enaknya mah, gitu kalau rumah dekat dengan Mushola. Eh tapi dulu saya pernah tinggal di rumah yang jaraknya hanya sejengkal dari Masjid. Ibarat dari rumah mau ke Masjid tinggal lompat hap lalu sampai.

Sudahkah kalian saling mengirimkan pesan saling mengucapkan maaf?

Kalau dulu, di awal bulan Ramadan begini hp pasti ramai dengan sms sms berisi permintaan maaf. Padahal zaman dulu biaya mengirim sms relatif masih mahal dibanding sekarang yang jauh lebih mudah dengan beragamnya media sosial dan platform chatting.

(Isinya sepi)

(cuma ada satu pesan dari salah satu murid)
(dan satu pesan lagi dari rekan mengajar)

Pokoknya cerita Ramadan belakangan ini rasanya kurang greget gimana gitu. Apa ini cuma perasaanku saja atau teman-teman pembaca juga merasakannya.

Yuk, sharing pengalaman kalian juga.




Saturday, May 6, 2017

The Legend of Somplak



Kali ini saya ingin bercerita mengenai persahabatan, tentang tiga sahabat saya, sambil sedikit curhat ceritanya, karena sayapun merasa tertodong dan terpalak untuk membuat cerita empat somplak.

Siapa empat somplak?

Mereka adalah orang-terbaik yang diciptakan oleh Tuhan. Ketika aku mengatakan terbaik, percayalah... Mereka memanglah manusia-manusia yang diciptakan di atas kesempurnaan.


Sahabatku yang pertama


Perkenalkan, Riska Fibriana. Misterious Gilr yang satu ini merupakan gadis muslimah yang tidak hanya cantik melainkan memiliki kepribadian sholeha, dia yang merupakan karyawan sebuah perusahaan swasta ini juga dikenal sebagai gadis yang tidak hanya cerdas, namun juga kreatif. Dari tangan-tangan ajaibnya dia bisa menciptakan berbagai macam benda ataupun kerajinan tangan yang luar biasa indah.
Lihat saja hasil karyanya: 


Selain itu dia memiliki kebijaksanaan luar biasa tentang bagaimana cara dia memandang makna kehidupan. Dia adalah teman terbaik saat bertukar pikiran.


Sahabatku yang kedua.

Fransisca Putri Ragil Yunfrita Sari, dia adalah ibu perinya kami, ibu peri bagi semua teman-temannya. Ibarat seorang princess yang tidak hanya memiliki kecantikan tapi juga kebaikan dan ketulusan hati. Dialah Putri. Sesuai dengan namanya dia memang seorang princess yang tidak hanya dikaruniai wajah cantik rupawan namun juga kebaikan dan ketulusan hati. Dia adalah orang pertama yang ada ketika temannya mengalami kesusahan, dia tidak akan ragu menitikan air mata ketika salah satu temannya mendapat musibah, dia tidak pernah ragu menyuarakan kebenaran dan melawan kemungkaran.

Sifatnya yang tidak pernah mengecewakan teman, membuatku menjadikan dia sebagai pundak pertama untuk berkeluh kesah.


Sahabat ketiga


Siti Wulandari, sahabatku yang satu ini merupakan traveler sejati sekaligus selebgram yang cukup terkenal. Memiliki jumlah follower yang tidak bisa dikatakan sedikit. Penampilannya selalu fashionable, dia juga ahli dalam bidang fotografi.
Cek saja sendiri akun instagramnya! Hits kan...
Di bandingkan instagramku yang bagaikan upil di tengah Sahara.


Bukankah aku memiliki sahabat-sahabat yang sempurna, mereka juga sangat luar biasa, mereka adalah yang terbaik. Tapi semua itu pudar ketika kami bersama, luntur saat kami berkumpul menjadi satu. Tiba-tiba saja mereka menjadi sosok yang berbeda, sosok yang menyebalkan yang selalu membullyku.
Di balik kerudung syar'inya Riska bisa bertransformasi menjadi gadis jenaka, somplak dan mirip Cak Lontong versi wanita. Dengan banyolan-banyolan cerdasnya yang membuat perut sakit menahan tawa. Sementara Putri, jangan bayangkan dia sebagai princess. Karena percayalah, ketika kami bersama dia akan mengeluarkan kalimat-kalimat sindiran yang akan membuatku malu mengakuinya sebagai teman. Ketika dia mulai buka suara, percayalah! Jangan percaya! (????)

Maksudnya jangan mempercayai apapun yang dikatakan oleh Putri atau kamu akan malu sendiri lalu berharap tidak pernah mengenalnya seumur hidup.

Setali tiga uang dengan Putri, di balik foto-foto cool yang bisa kalian liaht di instagramnya, jangan kaget, jangan heran, jangan terkejut ketika mengetahui sifat aslinya yang gokil dan suka menyindir. Jangan dekat-dekat dengannya jika hatimu tidak kebal menahan sakit akibat kata-katanya yang nyinyir.
Itulah sebabnya mereka semua adalah tiga somplak empat sempurna. Karena mereka tidak akan pernah lengkat jika tidak ada orang keempat. Dan meskipun mereka somplak, tapi bagiku mereka semua sempurna.


Demikianlah artikel gaje yang sebenarnya sudah mengendap cukup lama didraft dan baru tersentuh hari ini, ketika rasanya dunia sudah tidak menarik lagi. Aku hanya bisa berdiam dan menghibur diri.

Selamat malam....

Sunday, April 9, 2017

Fire

"Jalani hidupmu, lagipula ini hidupmu sendiri. Jangan coba terlalu keras. Tidak masalah menjadi pecundang."


Seorang lelaki dengan rambut merah bangun dari tidurnya. Dia memegang kepala yang berdenyut sakit. Ia berusaha mengumpulkan nyawa secepat mungkin. Lalu secara gusar mencari asal suara tadi.


Tidak ada seorang pun di sekelilingnya. Hanya ada dia. Dan beberapa benda semisal sepatu, jaket, baju kotor, berserakan di lantai.


Kepalanya kian berdenyut sakit. Lelaki itu mengerang. Menutupi kepala dengan bantal. Ini efek semalam. Minuman haram itu. Ah, menjadi candu tenyata setelah dua tiga kali mencoba. Kini, setiap malam kalau tidak meneguk cairan itu, terasa hampa hatinya.
Ia tak bisa hidup dengan cairan itu. Meski di setiap paginya, ia sukses tetsakiti cairan tersebut.


Setelah agak baikan, dia bangkit duduk. Berdiri. Berjalan menuju kamar mandi.
Keluar dari sana, wajah lelaki tersebut basah.


Dengan langkah diseret, ia menuju jendela. Sebelum benar-benar sampai, matanya diganggu sebuah benda yang terletak di nakas. Ia menghampiri benda itu.


Sepotong baju koko, peci, dan kain sarung. Serta terdapat sobekan kertas kecil di sana.


'Mama selalu berharap, kamu menjadi seorang Kyai, Nak.'


Matanya panas. Memerah. Dan setitik air menuruni rahang kerasnya.


"Aku terlalu hina ...."


Dia memandang pakaian itu lama.
Sepotong ingatan seseorang mengatakan kaliamat menohok melewati benaknya.


"Jalani hidupmu, lagipula ini hidupmu sendiri. Jangan coba terlalu keras. Tak masalah untuk menjadi pencundang," secara tiba-tiba menggaruk rambut frustrasi. Dan membuang pakaian tadi ke lantai.


Tangannya meraih laci meja. Mencari sesuatu.


Ketemu!


Sebuah korek! Korek api.


Ia memandang bergantian korek dan pakaian tersebut.


Sepotong senyum setan terbit.
Huwahahahahaha.


Bakkar!!!


"Tidak masalah menjadi pecundang. Bukan begitu?" Senyumnya kembali terbit.


Dipandangnya korek api ditanganya. Dipatikkan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat. Sialan! Kepalanya terlalu sakit sampai tanganya tak mampu mematikkan korek api.


Dia terduduk. Kepalanya terasa semakin sakit. Frustasi. Apa ini? Cairan di pipinya? Cih!


Dengan langkah tergesa lelaki itu menuju kamar mandi, membasahi wajahnya, mengganti pakaianya. Dan pergi.


Ia butuh pelampiasan. Suatu kebisingan. Membakar sesuatu (mungkin). Langkahnya tergesa sepanjang jalan. Pikiranya berkecamuk. Ia bisa gila lama lama.


Di jalan yang dia bisa hanya meludahkan kata-kata buruk. Meracau. Menggila.


"Mama selalu berharap, kamu menjadi seorang kyai, Nak."


Kata-kata buruk kembali terludah dari mulutnya.


Berkeliaran sepanjang jalan, hingga matahari terbenam. Menjalaninya seperti gelombang, hanya mengikuti dan tak punya pendirian.


"Hallo," seorang wanita dengan hijab berwarna biru tiba-tiba menyapanya.


"Assalamu'alaikum.." lanjut wanita tersebut, tersenyum.


Seketika dia menoleh ke arah asal suara dan terdiam untuk beberapa menit hingga akhirnya keluar sepatah kata dari mulutnya.


"Waalaikumsalam..."


Fiuh... mulut kotornya masih pantaskah mengucapkan salam.


"Abang mau kemana? Ke Masjid, yuk! Sudah hampir masuk shalat magribh nih," ujar wanita itu dengan senyuman menawan. Oh matahari sudah mulai terbenam rupanya. Dan wanita itu masih berdiri di hadapannya menunggu jawaban yang tak kunjung terlontar dari bibir pria itu. Dia sibuk memperhatikan senja.


"Kalau begitu saya duluan ya, Bang."


Wanita itupun berlalu dan dia hanya bisa memandanginya hingga bayangannya menjauh dan menghilang. Dia membalikkan badan, berjalan ke arah berlawanan dengan tujuan wanita itu. Dia berjalan cepat, setengah berlari. Hingga sampai di sebuah gedung tua yang dijaga oleh dua pria berwajah suram.


Dia masuk ke dalam gedung itu dan melewati kedua penjaga yang salah satunya menepuk bahu pria itu dan menghentikannya di ambang pintu.


"Bagi gue rokok dong, Yok!"


"Kagak ada Bang," ujarnya sambil melepaskan tangan penjaga itu kemudian masuk ke dalam.


Ternyata di dalam sudah mulai ramai. Riuh oleh suara debuman musik yang menghentak membikin kuping sakit. Tapi anehnya tempat ini banyak disukai terutama oleh orang-orang hilang arah seperti dirinya.


Dia melihat ke sebelah kiri, terdapat sebuah meja panjang yang dijaga oleh tiga pemuda yang siap menyediakan minuman yang akan membuatnya mabuk kepayang. Di sebelah kanan sudah dipenuhi orang-orang lupa diri. Mereka menari, laki perempuan meliuk-liukkan badan seperti kesurupan ular. Tak peduli tabrak sana tabrak sini yang penting happy. Mereka seperti sedang terbakar oleh sesuatu. Membara. Panas.
Datang ke sini semua orang dengan ketakutan.


Datang ke sini semua orang yang patah hati. Sepanjang malam dengan tangan kosong. Dengan langkah berbaris. Kita semua melompat. Kita semua menggila. Pria itu mulai bergabung dan dalam sekejap kehilangan dirinya dalam kebisingan. Membakar seolah dirinya api yang menyala dan tak mampu dipadamkan.


Angkat tanganmu dan buat kebisingan. Kita bakar di sini. Mari kita bakar di sini bow wow wow. Mari kita bakar.


DUAR....
Terdengar suara ledakan keras yang tidak diketahui asalnya. Asap putih tiba-tiba memenuhi seluruh ruangan yang menyelimuti mereka yang sedang lupa diri. Tak ada yang peduli. Semua masih menari dan menyanyi la la la. Terbakar semangat membuat mereka lupa.


Hingga ketika panas itu menjadi lebih realistis. Dan bakar menjadi kata yang nyata. Ketika mereka sadar api sudah dimana-mana. Tinggal sejengkal menjilati tubuh mereka. Barulah mereka sadar dan berlari keluar. Sementara pria itu masih berusaha menjernihkan pikirannya. Dia pikir api itu hanya halusinansi semata. Karena dia sedang merasakan semangat memuncak, membara dan api membakar dirinya hingga tiada tersisa apa.


"Fire" oleh Ainuen Nadifah, Endach Septiani,  Faranggi Eva Lutvika.



Ini adalah cerpen kolaborasi ketiga aku bersama Ainuen dan Endach. Kok sering banget sih, bikin cerpen kolaborasi. Yup... kami yang tergabung dalam organisasi Blogger Muda (yang muda yang berkarya) padahal anggotanya cuma tiga. Memiliki jadwal rutin setiap minggu untuk membuat cerpen kolaborasi yang temanya mengambil dari sebuah lagu. Setelah kemarin kami menggunakan lagu favoritku "Beauty and The Beast" yang merupakan soundtrak dari film dengan judul yang sama. Kali ini kami mencoba membuat cerpen dari lagu favorit Ainuen, yaitu "Fire" yang dinyanyikan oleh boyband asal Korea Bangtanboys atau BTS.

Sunday, April 2, 2017

Beauty And The Beast

Kisah yang sudah setua waktu, berputar kembali.


Tersenyum. Tertawa. Mengingat masa lalu membuatku ingin menceritakan pada kalian. Sebuah kisahku dan dia.


Jadi begini, kisah dimulai saat aku bertemu dengannya di depan toko permen. Dia memegang dua permen lolipop. Permen itu gonta-ganti menjamah lidahnya. Tampak cairan hijau mengalir keluar dari dua lubang hidungnya. Ingus. Dan aku bisa melihat, tidak sengaja ia menjilat ingusnya sendiri.


Pasti rasanya ... asin-manis.


Aku melihat dia sudah terlebih dahulu merasa ilfil. Lelaki itu mendapat nilai negatif dariku.


Jorok!


Dan ...


Ada tanda lahir besar di pipinya. Gigi ompong. Berkacamata. Rambut belah tengah.


Dia jelek.


Sangat jelek.


"Hai cantikk."


Dia menyapaku? Menyapaku?


"Hai ...," ketakutan.


"Ini untukmu," dia menyerahkan satu lolipopnya padaku.


Aku menerimanya dengan ragu. Hanya berusaha bersikap sopan  dengan menghargai pemberian orang.


"Mau nggak jadi pacarku?" tidak ku sangka-sangka di mengeluarkan sekuntum mawar merah dari balik tubuhnya.


Mata ini membulat. Dan bibir pun melongo membentuk huruf 'O'.


"Hey! Umur kita masih 7 tahun."


Setiap mengingat kisah tua itu, aku selalu ingin tertawa. Pertemuan pertama yang menggelikan. Seenaknya menyatakan perasaan pada orang. Padahal kita sama sekali belum mengenal.


Dan ... namaku bukanlah cantik.


Tapi dia mengatakan kalau aku cantik. Itu sebabnya dia menyatakan cinta padaku.


Kulihat dia tertawa. Hanya sedikit perubahan dari caranya tertawa. Yakni bertambahnya lesung kecil di dagu.


Kisah itu entah kenapa terputar kembali dalam benakku. Serampangan aku menceritakan pada dia "si penjilat ingus"


Dia tertawa lagi, kemudian memparodikan caranya menjilat ingus. Kali ini aku tak merasa jijik, sedikit ilfil memang. Namun lucu saja melihatnya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku 10 tahun lalu," ucapnya, berhenti dari candanya.


"Pertanyaan yang mana?" tentu saja aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Tapi aku merasa tak ingin membalasnya.
Terlalu picik memang, mengingat sejujurnya aku kurang menyukai penampilanya saat ini maupun 10 tahun yang lalu.


"Kalau kamu liat ini, pasti kamu ingat," ucapnya dengan merogoh tas selempangnya.


Permen lolipop.


Lalu cerita tua itu seolah kembali terulang ketika dia membuka bungkus lolipopnya dan mulai menjilati setiap inci lempengan kecil berwarna pelangi. Namun kali ini tanpa ingus seperti kisah tua itu.


Reaksikupun berbeda sudah tidak memandangnya dengan perasaan jijik aku justru tertawa melihat tingkahnya.


Kami sama sekali bukan teman, hanya kebetulan bertemu tanpa diduga-duga. Memulai kembali kisah lama. Meskipun harus ku katakan, dia tidak setampan pangeran dalam kisah dongeng yang sering ku baca. Datang tanpa kuda putih dan keretanya.


Tapi aku tidak bisa berpura-pura bahwa kehadirannya menghidupkanku kembali, memberi setitik cahaya seperti lilin-lilin kecil di tengah goa yang mulai menghampa.


Kehadirannya mengisi salah satu ruang kosong di hatiku, tapi yang aku tahu bukanlah dia si buruk rupa. Melainkan aku.


"Bella... Waktunya minum obat," Ibuku muncul dari belakang.


Sebelum menarik kursi roda yang kini berperan menggantikan kedua kakiku yang hilang, Ibu melihat ke arah pria itu. Melemparkan senyum lalu membawaku masuk ke dalam rumah.


Akankah dia mampu menerimaku?


Friday, March 31, 2017

Mencari Angin

Aku berdiri di bawah butiran-butiran bening yang menyerangku. Keroyokan. Sepertinya mereka tak mampu menghadapiku satu persatu. Pengecut. Pecundang kalian. Kalau berani lawan aku dengan tombak petir milik Zeus yang kau pinjam.

Aku masih berdiri menantang hujan.

Basah semua dari ujung kepala sampai ujung kaki. Basah yang mengingatkanku pada rindu. Karena seriap menatap hujan yang terlintas di benakku hanya senyum nakalmu.

Kenapa kamu pergi?

Aku berlari menyusuri hujan berharap menemukan angin yang telah pergi. Jangan pergi kemarau. Tetaplah kering seperti hatiku yang gersang semenjak angin itu berembus untuk yang terakhir kali dengan membisikkan kata selamat tinggal.

Di mana lagi aku bisa mendapatkan orang sepertimu, mencari senyum yang sama nakalnya dan merindu seperti punguk yang selalu menatap bulan dari kejauhan.

Dengan apalagi aku bisa menggantikanmu.

Kalimat itulah yang selalu terkenang semenjak anginku hilang. Seolah hariku hanya dipenuhi hujan dan air mata. Di dalam ada hati yang senantiasa merindunya. Menunggunya jika saja dia menyapa dan kembali dengan kata penyesalan karena telah pergi.

Hingga ketika aku sadar aku hanya berdiri di pinggir hujan. Berada di antara kenangan dan masa depan. Masih berusaha melepaskannya satu persatu, dengan iman aku percaya setiap butiran-butiran hujan mampu membawa kenangan tentang anginku pergi. Ku lepaskan satu persatu hingga genap dan semuanya lenyap di bawah gemericik hujan menuju sungai dan bermuara di pantai. Tempat paling akhir untuk sebuah kenangan dan luka masa lalu.


“Gi, masuk yuk. Designer baju pengantin kita sudah datang,” ujar seorang pria yang di jari manisnya melingkar sebuah cincin yang sama dengan cincin yang ku punya.



Banyuwangi, 30 Maret 2017