Tuesday, November 1, 2016

Sintru


Ilustrasi oleh Ana




Sintru. Sunyi sepi cuma lampu minyak sebagai teman dengan api menari-nari mengikuti embusan angin. Ken Umang duduk di tepian tempat tidurnya, tempat mereka biasa bercerita ditemani sendu suara jangkrik menyanyi memecah keheningan malam.

Kini benar-benar sunyi. Sintru.

Dia ingat malam terakhir dia melihat wajah Ken Arok sebelum pergi bersama Lohgawe yang menjejali Ken Arok mimpi-mimpi sehingga lupa diri.

Padahal sebelum pergi Ken Arok bersumpah.

"Cuma kau satu wanita di hatiku."

"Ken Dedes jauh lebih cantik."

"Omong kosong! Hanya kau lah wanita tercantik di hatiku."

Lantas sinar yang keluar dari mata kaki Ken Dedes membuatnya lupa akan kedudukannya, lupa dengan Tohjaya.

Kini rumah mereka sunyi, sepi. Sintru.

7 comments:

  1. Mo tanya kakak cantik....
    Sintru ituh apa yah?

    Ini cerita sebelum wisnu wardhana yang sempat dipost dimwb...
    Apa beda lagi??

    Kalo bisa dipost dong ceritanya sampai raden wijaya dinobatkan menjadi raja majapahit.
    Kan jarang tuh cerita rakyat begituan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya ini cuma flashfiction dari sudut pandangnya Ken Umang, memang settingnya masih berhubungan sama cerita Wisnuwardhana yang di MWB kemarin. Iya, tenang aja nanti aku repost dan lanjutin cerbungnya.

      Ayo dong, cerbungmu mana! Hehehe

      Delete
  2. Kendedes menurut cerita2 memang cantik kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang cantik sih, mbak. Tapi menurutku cinta sejatinya Ken Arok itu justru Ken Umang. Melihat sejarah mereka yang tumbuh besar di padepokan (kalau nggak salah milik Ayah Ken Umang) lalu tumbuh benih-benih cinta di antara mereka. Sementara Ken Arok menikahi Ken Dedes sebab mata kakinya memancarkan cahaya dan menurut cerita, wanita yang memiliki ciri-ciri seperti itu kelak akan melahirkan raja raja. Jadi intinya Ken Arok menikahi Ken Dedes hanya karena kedudukan dan ambisi untuk menjadi raja paling berkuasa.

      Delete
  3. Ya. Seperti rumahku di mwb. Setelah aku tinggalkan dan pindah di sini, rumah di sana menjadi sepi. Sintru. Hehe

    ReplyDelete

Jangan lupa tinggalkan jejak!